Cerita Kepala Desa di Aceh Tengah: Ada Suara Gemuruh dan Gempa Sebelum Banjir Bandang

2026-01-12 03:30:52
Cerita Kepala Desa di Aceh Tengah: Ada Suara Gemuruh dan Gempa Sebelum Banjir Bandang
ACEH TENGAH, - Pagi itu, Rabu sekitar pukul 09.00 WIB, Wahyu Putra, Reje Kampung (Kepala Desa) Umang, Kecamatan Linge, Aceh Tengah bersama lima rekannya membawa anjing peliharaan masing-masing, bersiap berburu ke hutan.Saat itu, hujan deras. Wahyu berharap hujan akan reda beberapa saat.Namun, setelah menunggu beberapa jam, ia merasa tidak enak hati melihat kondisi cuaca dan memilih kembali ke rumah.Setibanya di rumah, Wahyu berbincang dengan rekan-rekannya, dan sepakat untuk berkumpul di suatu tempat, sedangkan air mulai datang dari bukit di dekat kampung.Sekitar pukul 16.00 WIB, suara gemuruh dan gempa bumi terasa di kawasan Kampung Umang. Warga keluar dari rumah sembari menyebut nama Tuhan.“Hari Rabu datanglah hujan, hujan enggak berhenti, tetapi enggak deras. Baru sore Rabu terdengar di kampung kami bunyi dentuman bumi dan ada getaran gempa. Sehingga pada malam Rabu malam kami situ, turunlah tanah dari pegunungan didorong air (banjir bandang). Sehingga kampung kami, Kampung Umang (ada tanah) retak,” ucap Wahyu.Baca juga: Warga 5 Desa di Aceh Tengah Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai dengan Rakit DrumPenduduk Kampung Umang yang mencapai 95 KK itu pada akhirnya sudah mengungsi di sebuah lokasi bernama Simpang Kelampang.“Hari Jumat, karena masyarakat kami 133 di dusun Pantan Jemungket terjebak saat akan berangkat di jalur menuju lokasi pengungsian. Sehingga pada hari pagi Jumat itu, kami potong kayu untuk membuat jembatan darurat, supaya masyarakat yang terjebak bisa keluar menuju Simpang Kelampang dan berkumpul bersama," kata dia. KOMPAS.COM/ IWAN BAHAGIA Posko darurat yang dibuat warga seadanya di Simpang Gelampang, Kampung Umangm Kecamatan Linge, Aceh Tengah.Sedikitnya, ada 221 orang penduduk Kampung Umang. Pascabencana, masyarakat tidak lagi ingin kembali ke kampung. Mereka ingin mendapatkan lokasi permukiman baru.“Kalau kami di Kampung Umang ingin pindah kampung, karena di kampung itu kami tidak nyaman lagi, kami ingin direlokasi,” ucap Wahyu.Ia mengungkapkan, sudah ada warganya yang sakit di tenda pengungsian."Sabtu ini, ada 35 persen warga saya sudah sakit, 75 persen yang gejala sakit," kata dia. Wahyu mengaku butuh BBM untuk keperluan kampung, tetapi di kabupaten sudah tidak ada stok.“Seperti kemarin, saat kami ke posko pemda, saat kami ingin membawa logistik, BBM tidak ada,” ucap dia. Kalau beras tidak sampai ke sana, mungkin masyarakat kami akan terdampak, kelaparan,” kata Wahyu.


(prf/ega)