Spesies Baru Ditemukan di Laut Dalam Saat Uji Coba Tambang Mineral

2026-01-12 17:17:52
Spesies Baru Ditemukan di Laut Dalam Saat Uji Coba Tambang Mineral
- Permintaan global terhadap mineral atau logam kritis terus meningkat. Banyak negara kini melirik dasar laut sebagai sumber potensial untuk menambangnya. Namun, sejauh apa dampak eksplorasi tersebut terhadap ekosistem laut dalam?Sebuah studi internasional terbaru yang dipublikasikan di Nature Ecology and Evolution mengungkap temuan menarik: penambangan di kedalaman 4.000 meter memiliki dampak lebih kecil dari yang diperkirakan, tetapi tetap menurunkan keanekaragaman spesies hingga sepertiga.Penelitian ini melibatkan ahli biologi laut dari berbagai negara dalam upaya besar memetakan kehidupan di salah satu wilayah paling misterius di Bumi: dasar Samudra Pasifik, khususnya di Zona Clarion–Clipperton (CCZ) antara Meksiko dan Hawaii.Baca juga: Spesies Baru Anemon Laut Dalam di Jepang Bisa Bangun Cangkang untuk Kepiting PertapaKebutuhan logam seperti nikel, kobalt, dan mangan meningkat tajam akibat tuntutan transisi energi hijau. Logam-logam ini banyak ditemukan dalam polymetallic nodules di dasar laut, namun dampak ekologis penambangannya masih menjadi perdebatan.“Logam kritis dibutuhkan untuk transisi energi hijau kita, dan pasokannya sangat terbatas. Beberapa logam ini ditemukan dalam jumlah besar di dasar laut, tetapi sampai sekarang belum ada yang menunjukkan bagaimana cara menambangnya atau apa dampak lingkungannya,” kata Thomas Dahlgren, ahli biologi laut dari Universitas Gothenburg sekaligus pemimpin riset ini.Selama lima tahun, tim peneliti memetakan kehidupan laut dan melakukan uji coba simulasi penambangan sesuai pedoman International Seabed Authority (ISA). Total 160 hari mereka habiskan di laut.Baca juga: Tiga Spesies Ikan Laut Dalam Ditemukan, Salah Satunya MenggemaskanMuseum Sejarah Alam, London & Universitas Göteborg Cacing laut berbulu kecil. Tim dari Universitas Gothenburg telah meneliti spesies ini. Cacing ini merupakan salah satu dari sedikit spesies yang ditemuakn di laut dalam Pasifik. Panjangnya sekitar 1?2 mm. Uji coba dilakukan dengan melacak jejak alat tambang yang mengeruk nodul mineral. Hasilnya: Jumlah individu hewan menurun 37%, sementara keanekaragaman spesies berkurang 32%“Penelitian ini membutuhkan 160 hari di laut dan lima tahun kerja. Studi kami akan sangat penting bagi International Seabed Authority (ISA), yang mengatur penambangan mineral di perairan internasional,” ujar Dahlgren.Baca juga: Mengapa Banyak Hewan Laut Dalam Berukuran Raksasa?Dasar laut pada kedalaman 4 km adalah lingkungan ekstrem: tanpa cahaya matahari, miskin nutrisi, dan sedimen hanya bertambah sepersejuta meter per tahun.Perbandingan mencolok muncul ketika melihat sampel sedimen:Dalam riset ini, para ilmuwan mengumpulkan 4.350 hewan berukuran lebih dari 0,3 mm dan berhasil mengidentifikasi 788 spesies, sebagian besar berupa cacing bristle (polychaeta), krustasea, serta moluska seperti siput dan kerang.Baca juga: Mengapa Ikan di Laut Dalam Terlihat Seperti Alien?Museum Sejarah Alam, London & Universitas Göteborg Peneliti mengidentifikasi karang soliter baru yang menempel pada nodul polimetalik. Karang tersebut diberi nama Deltocyathus zoemetallicus. Dahlgren mengungkapkan betapa misteriusnya dunia laut dalam:“Saya telah bekerja di Zona Clarion–Clipperton selama lebih dari 13 tahun, dan ini adalah studi terbesar yang pernah dilakukan. Di Gothenburg, kami memimpin identifikasi cacing polychaete laut. Karena sebagian besar spesies belum pernah dideskripsikan sebelumnya, data molekuler (DNA) sangat penting untuk mempelajari keanekaragaman dan ekologi dasar laut.”Selain ratusan spesies baru, tim juga menemukan karang soliter baru yang tumbuh di atas nodul logam, diberi nama Deltocyathus zoemetallicus.Selama pemetaan, peneliti menemukan bahwa komunitas dasar laut berubah secara alami dari waktu ke waktu, kemungkinan akibat fluktuasi jumlah makanan yang turun dari permukaan laut.Namun, sebaran spesies di dasar Pasifik masih misterius.“Sekarang penting untuk mencoba memprediksi risiko hilangnya keanekaragaman hayati akibat penambangan. Ini mengharuskan kami menyelidiki keanekaragaman hayati di 30% wilayah Clarion–Clipperton Zone yang telah dilindungi. Saat ini, kita hampir tidak tahu apa yang hidup di sana,” kata Adrian Glover, penulis senior dari Natural History Museum London.Penelitian ini menjadi pijakan penting untuk memahami dampak nyata penambangan laut dalam. Meski penurunan keanekaragaman tidak separah yang dibayangkan, risiko terhadap spesies yang belum kita ketahui tetap besar.Satu pesan penting yang disampaikan studi ini: transisi energi tidak boleh mengorbankan ekosistem kuno yang belum kita pahami sepenuhnya.


(prf/ega)