SALATIGA, - Awan mendung menyelimuti Kota Salatiga pada Senin pagi, namun itu tak menghalangi dua lelaki lintas generasi menjalankan pengabdian mereka: menjaga Tempat Pemakaman Umum (TPU) Wates di Kampung Turusan, Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo.Salah satunya Widodo (31), yang telah menghabiskan seluruh hidupnya di lingkungan makam tersebut.“Saya itu lahir di sini, karena dulu bapak yang menjaga makam. Setelah bapak meninggal, saya meneruskan,” ujarnya.Baca juga: Kisah Mang Jai di Pangkalpinang, Gali Makam 40 Tahun Tanpa DigajiWidodo bercerita bahwa dulu rumah keluarganya berada di area makam.Setelah lahan makam diperluas, keluarganya pindah, namun tetap tinggal di dekat TPU. Baginya, menjadi penjaga makam adalah pengabdian.“Kerja jadi penjaga makam itu yang utama ikhlas, karena intinya hanya sosial. Bagi saya, ya lebih banyak sukanya daripada dukanya,” katanya.Meski setiap hari berada di TPU Wates, Widodo mengaku tidak mendapat penghasilan tetap sehingga sesekali bekerja serabutan jika ada yang membutuhkan tenaganya.“Kalau begitu, saya meninggalkan makam untuk kerja,” ujarnya.Widodo menyebut TPU Wates adalah bagian hidupnya sejak kecil. Di tempat itu ia bermain, tumbuh besar, hingga kini menjadi penjaga makam.Baca juga: Cerita Hendrik Hidup dari Upah Bersihkan Makam sejak SD hingga BerkeluargaDi TPU Wates terdapat lima penjaga dan tidak ada jadwal khusus. Mereka secara rutin bekerja bakti merapikan ilalang dan semak yang tumbuh subur, terutama pada musim hujan.Penjaga lain, Sis Slamet (65), telah bertugas sejak 2001. Sebelum itu, ia bekerja sebagai tukang bangunan.“Tapi kemudian total di makam ini, karena jadi tukang batu dan bangunan butuh tenaga. Sekarang sudah tua jadi setiap hari di makam sini,” katanya.Meski tanpa penghasilan tetap, Slamet memilih bertahan. Penghasilan hanya datang dari keluarga yang berziarah—itu pun tidak menentu.“Tidak diberi ya tidak mengeluh, diberi ya terima kasih. Kami yakin semua yang dilakukan di makam ini dicatat menjadi pahala,” ucapnya.Baca juga: Kisah Rusja, Penjaga Makam di Indramayu yang Mengabdi Tanpa Upah hingga Usia SenjaSlamet mengatakan luas TPU Wates sekitar satu hektare. Makam tertua di tempat itu adalah makam Mbah Sido Amuk, yang disebut masih keturunan Keraton Solo.Tentang hal mistis, Slamet menegaskan tidak pernah mengalami gangguan. Namun, ia kadang merasakan firasat jika akan ada jenazah yang dimakamkan di sana.“Badan terasa gerah, sehingga harus menyiapkan kuburannya,” ujarnya.
(prf/ega)
Kisah Dua Penjaga TPU Wates Salatiga: Mengabdi Tanpa Upah Tetap demi Merawat Makam
2026-01-12 06:06:51
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:48
| 2026-01-12 06:35
| 2026-01-12 06:11
| 2026-01-12 05:17
| 2026-01-12 04:48










































