GPIB Immanuel Jakarta Tanpa Dekorasi Mewah, Wujud Empati bagi Korban Bencana

2026-01-14 13:17:57
GPIB Immanuel Jakarta Tanpa Dekorasi Mewah, Wujud Empati bagi Korban Bencana
JAKARTA, – Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel Jakarta memilih merayakan Natal 2025 dengan nuansa sederhana.Alih-alih menghadirkan dekorasi meriah dan mewah, gereja yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Timur, Gambir, Jakarta Pusat, ini justru menampilkan ornamen Natal yang minimalis sebagai bentuk refleksi atas kondisi bangsa yang tengah dilanda berbagai bencana.Pantauan Kompas.com pada Kamis , dari bagian luar gereja, dinding putih bangunan tampak polos seperti hari biasa. Tidak banyak hiasan yang dipasang, selain sebuah banner bertuliskan “Selamat Hari Natal” yang terpasang di balik pagar dekat gerbang masuk gereja.Baca juga: Rayakan Natal, GPIB Immanuel Jakarta Siapkan Tenda Tambahan untuk JemaatDi pintu masuk gereja, tepat di pojok kanan, terdapat sebuah pohon Natal setinggi sekitar 1,8 meter. Sementara itu, di pojok kiri pintu masuk terpasang banner besar berwarna biru dengan tulisan “Selamat Natal 2025”.Selain banner, terdapat pula sekitar delapan hiasan bintang berwarna emas yang digantung tepat di atas pintu masuk gereja. Di area dalam gereja, sebuah pohon Natal setinggi sekitar dua meter ditempatkan di sisi kiri mimbar pendeta.Sementara itu, banner berwarna pink bertuliskan “Ibadah dan Perayaan Natal Jemaat” terlihat terpasang di balkon lantai dua gereja, tepat di atas area mimbar.Ketua V Pelaksana Harian Majelis Jemaat (PHMJ) GPIB Immanuel Jakarta, Steve Loupatty, mengatakan Natal 2025 menjadi tahun kedua gerejanya tidak memasang dekorasi Natal secara berlebihan."Dari tahun lalu juga seperti itu, apalagi di tahun ini dengan keadaan bangsa dan negara kita, rakyat lagi seperti itu, maka kami mengusung kesederhanaan, bahkan sederhana sekali," ucap Steve saat diwawancarai di lokasi, Kamis.Adapun tema Natal yang diusung GPIB Jakarta tahun ini adalah “Allah Memulihkan Kehidupan Seluruh Ciptaan”.Baca juga: Tema Natal GPIB Immanuel Jakarta, Refleksi Positif bagi Korban BencanaSteve menjelaskan, tema tersebut merupakan tema sentral GPIB dan dipilih karena selaras dengan kondisi bangsa yang dinilai sedang tidak baik-baik saja akibat berbagai bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah.Tema itu diharapkan dapat menjadi refleksi positif bagi para korban bencana agar tidak putus asa serta tetap percaya bahwa Tuhan akan memulihkan keadaan."Ini bisa jadi refleksi kondisi bencana yang terjadi di Sumatera bukan Sumatera aja, di Jawa Timur juga ada," tutur dia.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-14 11:52