Kondisi 17 Korban Kebakaran di Jakpus: Tak Ada Luka Bakar, Diduga karena Asap

2026-01-17 04:14:55
Kondisi 17 Korban Kebakaran di Jakpus: Tak Ada Luka Bakar, Diduga karena Asap
Gedung di Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat (Jakpus), terbakar dan menyebabkan 17 orang tewas. Polisi menyebut korban tewas karena asap."Secara umum tadi korban yang kami lihat adalah tidak dalam kondisi luka bakar, kemungkinan lemas," kata Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Susatyo Purnomo, di Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2025).Meski demikian, penyebab korban tewas akan diketahui secara pasti lewat pemeriksaan oleh tim RS Polri. Dia hanya menyebut asap pekat memenuhi gedung."Kemudian, saat terbakar, api semakin membesar, kemudian asap itu sampai naik ke lantai 6. Akhirnya dari tadi hingga pukul 15.30 WIB tadi, sudah 17 korbannya," ujarnya.Proses pemadaman masih dilakukan. Dia mengatakan petugas damkar sedang menyisir lokasi."Cukup pekat di atas," ujarnya.Tonton juga video "Kebakaran Gedung di Cempaka Baru, Petugas Evakuasi Sejumlah Jenazah"[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-17 02:56