Seorang Pria Hanyut di Sungai Oya Imogiri, Langsung Dibawa ke RS

2026-01-15 18:17:15
Seorang Pria Hanyut di Sungai Oya Imogiri, Langsung Dibawa ke RS
BANTUL, - Seorang pria hanyut di Sungai Oyo antara Padukuhan Pengkol dan Padukuhan Lemahrubuh, Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).Beruntung, korban berinisial ITS tersebut berhasil diselamatkan oleh warga sekitar.Korban kemudian langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.Baca juga: Ada Proyek Rehabilitasi, Kedai Kopi Jalanan di Jembatan Kewek Yogyakarta DitertibkanKasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto, mengungkapkan, kejadian itu baru diketahui pada Rabu sekitar pukul 16.30 WIB."Korban adalah ITS (29), warga Kemantren Pakualaman, Kota Yogyakarta," katanya, Kamis .Rita menyampaikan, kejadian itu diketahui saat seorang warga setempat melihat ada seseorang yang mengapung dan hanyut di sungai Oya."Dari situ, warga langsung menyampaikan kepada dua orang lainya yang saat itu sedang mencari rumput. Kemudian, mereka bersama-sama menolong korban dengan mengangkat ke tepi sungai," jelas dia.Baca juga: UMP Hanya Naik Rp 153.000, MPBI: Ini Ketimpangan Serius dengan Tingginya Biaya Hidup di YogyakartaWarga bersama Bhabinkamtibmas Sriharjo kemudian langsung menuju tempat kejadian perkara."Sesampainya di tempat kejadian perkara, diketahui bahwa korban ternyata masih bernafas, sehingga korban dibawa ke RSUD Panembahan Senopati untuk penanganan lebih lanjut," beber Rita.Kendati begitu, sampai saat ini belum diketahui penyebab korban bisa sampai tenggelam di Sungai Oyo.Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul Warga Kota Yogya Hanyut di Sungai Oyo, https://jogja.tribunnews.com/diy/1203846/warga-kota-yogya-hanyut-di-sungai-oyo.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-15 16:10