Contoh Jawaban Cerita Refleksi tentang Situasi Mengajar dan Upaya Membangun Kelas yang Lebih Baik

2026-01-12 03:20:52
Contoh Jawaban Cerita Refleksi tentang Situasi Mengajar dan Upaya Membangun Kelas yang Lebih Baik
- Menciptakan lingkungan yang positif di kelas maupun di sekolah menjadi bagian penting dalam penerapan school well-being, topik yang dibahas pada Modul 2 PPG Guru Tertentu 2025. Melalui pertanyaan reflektif ini, guru diajak menengok kembali pengalaman mereka selama mendidik, momen ketika kelas terasa hidup, saat siswa membutuhkan dukungan, hingga situasi yang menuntut guru lebih peka terhadap kebutuhan emosional murid. Refleksi tersebut bukan sekadar evaluasi, tetapi kesempatan bagi guru untuk memahami bagaimana langkah-langkah kecil yang mereka lakukan setiap hari dapat membangun suasana belajar yang aman, nyaman, dan bermakna bagi seluruh siswa.Baca juga: Jawaban Reflektif CASEL PPG 2025: Cara Guru Mengindentifikasi Emosi Diri dan Menjaga Relasi Melansir dari Buku Ajar PPG bagi Guru Tertentu: Pembelajaran Sosial Emosional (2025) karya Clara Moningka dan Riche Purnama, Topik 4 membahas School Well-being. School well-being adalah kondisi dimana individu dapat memenuhi kebutuhan dasarnya baik materiil maupun non-materiil di sekolah yang terdiri atas empat dimensi yaitu:Pada bagian ini anda dapat merefleksikan kembali situasi selama anda mendidik dan kemudian berusaha menciptakan lingkungan positif di kelas dan di sekolah.Selama mendidik, saya menyadari bahwa suasana kelas sangat memengaruhi kesiapan siswa untuk belajar. Ada hari-hari ketika kelas terasa terlalu tegang, dan ada pula saat siswa tampak lebih rileks. Dari situ saya belajar bahwa menciptakan lingkungan positif tidak cukup hanya dengan aturan, tetapi juga dengan kehangatan dan empati. Saya mulai membiasakan menyapa siswa di awal pelajaran, menata ruang kelas agar lebih rapi, serta memberi ruang bagi siswa untuk menyampaikan perasaan mereka.Langkah-langkah kecil ini membuat kelas terasa lebih aman secara emosional dan membantu siswa lebih fokus selama proses pembelajaran.Baca juga: Jawaban Bagaimana Refleksi Tentang Praktik Kinerja Sealama Observasi Praktik Kinerja?Pengalaman saya mengajar menunjukkan bahwa hubungan baik antara guru dan siswa sangat menentukan rasa nyaman mereka di sekolah. Saya pernah mendapati beberapa siswa enggan bertanya karena takut salah. Hal itu membuat saya lebih berhati-hati dalam memberikan respons. Saya mencoba menggunakan bahasa yang lebih suportif, memberi apresiasi meski jawabannya belum tepat, dan membuka ruang bagi mereka untuk berbicara tanpa merasa dihakimi. Dengan begitu, saya melihat perubahan sikap siswa yang mulai lebih percaya diri, dan suasana kelas pun menjadi lebih positif serta lebih inklusif.Saat merefleksikan kembali proses mengajar, saya melihat bahwa kebutuhan emosional siswa sering kali sama pentingnya dengan kebutuhan akademiknya. Beberapa siswa datang ke sekolah dengan perasaan yang tidak stabil, dan hal itu memengaruhi partisipasi mereka. Untuk itu, saya mencoba membangun rutinitas sederhana seperti check-in emosional di awal kelas atau berbincang singkat dengan siswa yang tampak murung. Cara ini membuat saya lebih memahami kondisi mereka, sekaligus memberi pesan bahwa sekolah adalah tempat yang aman untuk bercerita. Upaya tersebut membantu meningkatkan kesejahteraan sosial-emosional siswa dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih suportif.Dalam perjalanan saya mengajar, saya melihat bahwa school well-being tidak hanya ditentukan oleh guru di kelas, tetapi juga oleh budaya yang terbangun di seluruh sekolah. Saya berusaha menjaga hubungan baik dengan rekan sejawat agar suasana kerja lebih menyenangkan. Selain itu, saya mengikuti kegiatan sekolah yang mendukung kesehatan mental dan interaksi positif antarwarga sekolah. Melalui kolaborasi ini, saya merasa lingkungan sekolah menjadi lebih nyaman, dan dampaknya terlihat pada siswa yang semakin berani berpartisipasi dan lebih ceria dalam mengikuti pembelajaran.Baca juga: Jawaban 3 Tantangan Tersulit saat Guru Melakukan Perubahan di KelasSaya menyadari bahwa siswa akan sulit berkembang jika berada di lingkungan yang penuh tekanan. Karena itu, saya mulai merancang pembelajaran yang tidak hanya mengejar target akademik tetapi juga memberi ruang bagi siswa untuk beristirahat secara mental. Saya memadukan aktivitas ringan seperti permainan edukasi, refleksi singkat, atau gerakan sederhana saat mereka mulai tampak lelah. Tindakan-tindakan kecil ini membantu mengurangi stres dan membangun suasana kelas yang lebih rileks. Dari pengalaman tersebut, saya memahami bahwa menciptakan lingkungan positif bukanlah hal besar, tetapi praktik kecil yang dilakukan secara konsisten.Dalam proses mendidik, saya menyadari bahwa penciptaan lingkungan positif di kelas merupakan aspek penting dalam mendukung school well-being. Melalui refleksi, saya melihat perlunya penguatan iklim kelas yang aman, tertib, dan saling menghargai. Saya mulai menata struktur kegiatan pembelajaran yang lebih jelas, menyusun aturan kelas hasil kesepakatan bersama, serta mengedepankan komunikasi yang profesional. Dengan langkah-langkah tersebut, saya berupaya menciptakan ruang belajar yang kondusif sehingga siswa dapat merasa nyaman secara akademik, sosial, maupun emosional.Refleksi terhadap praktik saya menunjukkan bahwa kualitas hubungan antara guru, siswa, dan rekan sejawat sangat menentukan kesejahteraan sekolah. Oleh karena itu, saya berkomitmen membangun relasi yang sehat melalui komunikasi yang konsisten, sikap kooperatif, serta keterlibatan aktif dalam kegiatan sekolah. Saya berupaya mengambil bagian dalam pengembangan budaya sekolah positif, termasuk mendukung program-program yang menumbuhkan rasa aman dan kebersamaan. Dengan demikian, lingkungan sekolah menjadi lebih suportif dan berdampak langsung pada kenyamanan belajar siswa.Baca juga: PPG 2025: Jawaban Reflektif tentang Perencanaan Pembelajaran TerdiferensiasiMelalui refleksi, saya memahami bahwa school well-being menuntut perhatian terhadap aspek sosial dan emosional siswa.Saya melihat perlunya menyediakan ruang dialog yang aman, memberikan respon yang profesional terhadap kebutuhan siswa, serta memastikan adanya akses dukungan bila mereka mengalami hambatan. Saya berusaha konsisten mengamati kondisi siswa, memberikan umpan balik yang konstruktif, dan menciptakan interaksi yang menghargai martabat mereka. Upaya ini dilakukan agar siswa merasakan keberadaan sekolah sebagai lingkungan yang mendukung perkembangan holistik.Saat melihat kembali perjalanan saya mendidik, saya menyadari bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang di mana siswa mencari rasa aman, dukungan, dan pengakuan. Ada momen ketika saya melihat siswa datang dengan wajah letih atau murung, dan itu membuat saya tergerak untuk lebih peka terhadap kebutuhan emosional mereka. Saya mencoba hadir bukan hanya sebagai guru yang mengajar, tetapi juga sebagai orang dewasa yang memahami. Saya membangun suasana kelas yang hangat, mendengar cerita mereka, dan memberikan jeda ketika mereka tampak kewalahan. Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa menciptakan lingkungan positif bukan hanya soal strategi, tetapi tentang hati yang benar-benar ingin membuat siswa merasa dihargai dan diterima.Baca juga: Jawaban Cerita Reflektif Modul 1 Topik 2: Ini Inspirasi Pembelajaran yang Banyak Guru RasakanDisclaimer: Artikel ini berisi contoh jawaban reflektif untuk membantu peserta PPG 2025. Seluruh jawaban bersifat alternatif dan bukan jawaban resmi dari Kemendikbudristek.


(prf/ega)