-Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut ada enam sektor industri nasional yang saat ini terpukul akibat membanjirnya produk impor jadi.Enam sektor itu meliputi tekstil, baja, elektronik, kosmetik, keramik, dan alas kaki.Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengatakan lonjakan impor membuat kapasitas produksi industri dalam negeri tertahan. Banyak perusahaan memilih menahan produksi karena khawatir barangnya tidak terserap pasar."Itu membuat industri di dalam negeri mau produksi banyak berpikir terlebih dahulu. Akhirnya menahan. Harusnya bisa produksi 100, produksi 60 dulu," kata Febri saat ditemui di Jakarta, Selasa .Baca juga: Ekspor Minyak Atsiri RI Tembus Rp 4,2 Triliun, Industri Dorong Kerja Sama BerkelanjutanIa menjelaskan, dari enam sektor yang tertekan impor, baru sektor tekstil yang memiliki aturan pengendalian impor. Sementara lima sektor lain masih menghadapi tantangan tanpa regulasi pembatasan yang jelas.Kemenperin mendukung langkah Kementerian Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Kemenkop UMKM) yang sedang menyiapkan skema kemitraan antara pedagang pakaian bekas atau thrifting dengan pelaku UMKM.Febri menegaskan pentingnya mengutamakan produk lokal di pasar domestik."Membeli produk lokal itu artinya melindungi saudara-saudara kita yang bekerja pada industri itu," ujarnya.Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza sebelumnya menyoroti kondisi serupa di sektor baja. Ia menyebut sekitar 55 persen kebutuhan baja nasional masih dipenuhi impor, sebagian besar berasal dari China.Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan hingga 2021 terdapat 562 perusahaan logam dasar (KBLI 24) dan 1.592 perusahaan barang logam bukan mesin (KBLI 25). Namun kapasitas produksi nasional belum mampu mengejar tingkat konsumsi.Pada 2024, produksi baja Indonesia mencapai 18 juta ton, naik 110 persen dibanding 2019. Meski begitu, angka itu masih jauh di bawah kebutuhan nasional.Baca juga: Gelar Pasar Murah, Tracon Industri-Rekind Group Bantu Warga Jaga Daya BeliDalam skala global, produksi baja dunia mencapai 1,884 miliar ton, dengan China sebagai produsen terbesar sebanyak 1,005 miliar ton atau 53,3 persen dari total dunia.Faisol menegaskan perlindungan pasar dan penarikan investasi baru menjadi dua kunci agar industri baja dan sektor lainnya tidak terus bergantung pada impor.
(prf/ega)
6 Sektor Industri Dibanjiri Produk Impor, Kemenperin Wanti-wanti soal Anjloknya Produksi
2026-01-11 03:25:32
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 03:31
| 2026-01-11 03:11
| 2026-01-11 02:38
| 2026-01-11 01:55










































