Bagaimana Andi Raup Rp 30 Juta per Bulan dari Gunungan Sampah Bantargebang?

2026-01-12 10:01:26
Bagaimana Andi Raup Rp 30 Juta per Bulan dari Gunungan Sampah Bantargebang?
– Di balik bau menyengat dan gunungan sampah TPST Bantargebang, Bekasi, Andi (34), menemukan sumber penghidupannya, dengan meraup hingga Rp 30 juta per bulan dari limbah plastik.Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang selama ini dikenal sebagai simbol krisis sampah Jakarta yang kian mengkhawatirkan.Ribuan ton sampah masuk ke kawasan ini setiap hari dan telah melampaui kapasitas ideal.Namun, di tengah kondisi tersebut, sebagian warga justru menggantungkan hidup dari aktivitas pengelolaan sampah secara informal.Baca juga: Pasal yang Bisa Menjerat Tetangga “Nakal”, dari Bakar Sampah hingga Parkir di JalananSalah satunya adalah Andi (34), pengepul limbah plastik yang telah bertahun-tahun bekerja di sekitar TPST Bantargebang.Pekerjaan yang kerap dipandang menjijikkan oleh sebagian orang ini justru memberi Andi penghasilan puluhan juta rupiah setiap bulan."Sukanya kalau keuntungan lebih dari ekspetasi kami, itu bulan kemarin Rp 30 juta per bulan," jelas Andi ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Jumat .Bagaimana kisah Andi menjadi pengepul sampah plastik hingga meraup penghasilan Rp 30 juta per bulan?Usaha pengepulan limbah plastik yang dijalankan Andi bukanlah bisnis yang baru dirintis.Usaha tersebut telah berdiri sejak 1996 dan merupakan warisan dari ayahnya.Pada awalnya, ayah Andi bekerja sebagai pemulung yang setiap hari mengais sampah di Bantargebang.Pengalaman panjang itu membuat sang ayah menyadari bahwa limbah plastik memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.Kesadaran tersebut mendorong ayah Andi beralih profesi menjadi pengepul limbah plastik.Lapak pengepulan itu kemudian dikenal dengan nama “Lapak Bos Min”.Seiring bertambahnya usia, ayah Andi menyerahkan pengelolaan usaha tersebut kepada Andi.Hingga kini, Andi melanjutkan dan mengembangkan usaha keluarga itu di tengah semakin membeludaknya volume sampah Bantargebang./ SHINTA DWI AYU Tumpukan sampah di TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, menghijau.Andi menjelaskan bahwa sistem kerja usahanya dimulai dari membeli limbah plastik dari para pemulung.Para pemulung tersebut bekerja di area TPST Bantargebang dan mengumpulkan plastik dari gunungan sampah."Kami beli ada yang Rp 450 perak sampai Rp 700 itu biaya angkut dan sortir tanggungan saya, mereka (pemulung) hanya cari," jelas Andi.Limbah plastik yang dibeli kemudian dibawa ke lapak pengepulan milik Andi yang berada tepat di samping TPST Bantargebang.Setibanya di lapak, plastik dimasukkan ke dalam bak berukuran besar untuk dicuci.Proses pencucian dilakukan agar kotoran yang menempel dapat dibersihkan.


(prf/ega)