Wacana 6 Hari Sekolah, Ketua PGRI Kota Magelang: Ada Plus Minusnya

2026-02-04 00:42:55
Wacana 6 Hari Sekolah, Ketua PGRI Kota Magelang: Ada Plus Minusnya
MAGELANG, – Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Magelang, Nurwiyono Slamet Nugroho, menanggapi wacana penerapan kembali sistem enam hari sekolah untuk jenjang SMA/SMK di Jawa Tengah."PGRI (Kota Magelang) mendukung yang terbaik untuk pendidikan anak dan didukung oleh semua pihak," ucapnya kepada Kompas.com melalui aplikasi perpesanan, Rabu .Nurwiyono menjelaskan bahwa kebijakan lima hari sekolah yang saat ini diterapkan sudah berjalan baik.Menurutnya, libur dua hari memberikan kesempatan bagi siswa dan guru untuk beraktivitas di masyarakat.Baca juga: Delapan Bulan Jelang Pensiun, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Abdul Muis Diberhentikan Setelah Putusan MAIa menilai penerapan durasi sekolah perlu kajian mendalam.Jika sistem enam hari sekolah dianggap mampu mengatasi kurangnya pengawasan terhadap anak, maka opsi tersebut bisa dipertimbangkan."Lima hari dan enam hari sekolah semua ada plus minusnya," ujarnya.Nurwiyono juga menekankan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, pemerintah atau sekolah, dan masyarakat."Kontrol anak sekolah harus dari semua pihak baik orang tua, guru, dan masyarakat," katanya.Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyampaikan bahwa pemerintah provinsi sedang melibatkan akademisi untuk mengkaji wacana enam hari sekolah pada jenjang SMA/SMK.Yasin mengatakan bahwa setelah kajian selesai, Pemprov Jateng akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat—baik siswa, guru, maupun orang tua. Sosialisasi ini ditargetkan selesai sebelum semester berikutnya."Kita sosialisasikan bagaimana nanti keadaan masyarakatnya, penerimaan siswa-siswinya, termasuk sekolahnya sudah siap apa belum,” jelasnya dikutip Kompas.com .Yasin menambahkan bahwa pemberlakuan enam hari sekolah akan berdampak pada perubahan jam belajar.Jika selama ini pelajar pulang hingga sore pada sistem lima hari sekolah, nantinya jam belajar akan bergeser menjadi hanya sampai siang."Kalau enam hari itu Jumat kita pulang jam 11.00 WIB, nanti Sabtu pulangnya jam 11.00 WIB atau jam 12.00 WIB. Enggak penuh ya,” bebernya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-03 22:49