– Libur panjang Natal dan tahun baru (nataru) menjadi momen yang dinanti oleh anak-anak.Pasalnya setelah menjalani satu semester penuh dengan rutinitas sekolah, masa libur kerap dimanfaatkan sebagai waktu jeda dari aktivitas akademik.Dosen Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Airlangga (Unair), Dr Nur Ainy Fardana Nawangsari MSi Psikolog menilai bahwa waktu liburan memberikan berbagai manfaat bagi anak dalam mendukung proses tumbuh kembang mereka.Menurut Neny, sapaan akrabnya, liburan merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan fisik dan mental anak.Baca juga: Akhir Tahun Tiba, Dekan Unair Beri Rumus agar Tak Boncos kala LiburanPasalnya, anak-anak telah menghabiskan banyak waktu dengan rutinitas kegiatan yang menguras kemampuan kognitif, fisik, dan emosional mereka. Karena itu, masa libur menjadi momen yang tepat untuk mengembalikan energi anak.Sekaligus memberi ruang untuk mengeksplorasi pengalaman baru di luar rutinitas akademik.“Yang sebenarnya dipulihkan ketika anak memasuki masa liburan itu adalah pengalamannya dan kondisi mentalnya. Anak-anak mendapatkan pengalaman baru, lalu dari pengalaman itu mereka merasa lebih nyaman dan memiliki cara pandang yang berbeda tentang potensi dirinya dan tentang apa yang ada di sekitarnya,” jelas Nur Ainy Fardana dikutip dari laman Unair, Minggu .Lebih lanjut, Neny menilai bahwa pengalaman baru tersebut tidak selalu harus hadir melalui kegiatan liburan yang membutuhkan biaya besar.Baca juga: Atasi Susah Listrik dan Sinyal di Sumatera, UNAIR Pasang Panel Surya dan StarlinkMenurutnya, orangtua dapat merancang berbagai aktivitas sederhana di rumah yang memberi ruang bagi anak untuk keluar dari rutinitas akademik.Pada momen inilah, liburan juga dapat momentum mempererat kebersamaan antara anak dan keluarga.Aktivitasnya bisa apa saja, sesederhana apa pun. Misalnya di rumah anak-anak bisa diajak membuat proyek tertentu atau kalau orangtuanya punya aktivitas usaha, anak-anak bisa terlibat di sana."Ajak anak-anak melakukan aktivitas yang selama ini tidak bisa mereka lakukan karena jadwal sekolah yang padat. Itu bisa jadi pengalaman baru untuk mereka,” ujarnya.Kendati demikian, Neny menegaskan bahwa aktivitas selama masa liburan sebaiknya tidak dibingkai dalam target atau tuntutan tertentu. Menurutnya, tekanan semacam itu justru dapat mengurangi manfaat liburan bagi anak.Ia menilai, masa libur harus menjadi ruang bermain dan berekspresi. Agar anak memiliki kesempatan untuk mengenali kepribadiannya serta mengeksplorasi potensi di luar rutinitas sekolah yang ketat.Dok. Shutterstock Ilustrasi liburan keluargaNeny menambahkan, peran orangtua menjadi aspek penting dalam memastikan pengalaman liburan anak benar-benar bermakna. Sebab setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda.
(prf/ega)
Psikolog Unair: Optimalkan Waktu Liburan Bisa Dukung Proses Tumbuh Kembang Anak
2026-01-12 07:38:57
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:15
| 2026-01-12 05:47
| 2026-01-12 05:32










































