Memancing Gratis di Kali Jakarta: Di Antara Stres Hidup dan Ancaman Limbah

2026-01-16 20:19:13
Memancing Gratis di Kali Jakarta: Di Antara Stres Hidup dan Ancaman Limbah
JAKARTA, – Meski kondisi sungai di Jakarta kian tercemar, sejumlah warga masih memanfaatkan bantaran kali sebagai tempat melepas penat dari rutinitas sehari-hari.“Kalau di sini kan bisa lihat-lihat pohon, mobil lewat, air kali juga. Lumayan buat ngilangin stres,” ujar Ilyas (50), warga Cengkareng, saat ditemui Kompas.com di Kali Cengkareng Drain, Pantai Indah Kapuk (PIK) 1, Jakarta Utara, Senin .Ilyas mengaku kerap datang memancing saat hari libur kerja.Aktivitas tersebut telah ia lakukan sejak lama, jauh sebelum kawasan di sekitarnya berkembang pesat seperti sekarang.Baca juga: Mancing Ikan di Kali Jakarta yang Tercemar Limbah: Hobi yang Berisiko bagi LingkunganBagi dia, memancing bukan sekadar mencari ikan, melainkan cara sederhana untuk menenangkan pikiran."Biasanya sih kalau libur kerja aja Sabtu dan Minggu. Kadang semaunya aja, dari pagi sampai sore,"Namun, di balik kebiasaan warga tersebut, kondisi kali-kali di Jakarta justru berada dalam situasi memprihatinkan.Pakar Lingkungan dari Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menyebut mayoritas sungai di Jakarta saat ini telah tercemar akibat limbah domestik, industri, dan sampah.“Rata-rata kualitas air kali di Jakarta bermasalah, terutama dari beban limbah, baik rumah tangga, masyarakat dan industri, serta juga sampah yang ke kali,” ujar Mahawan saat dihubungi Kompas.com, Senin.Mahawan menambahkan, berdasarkan pemantauan pada 2024, air di kali-kali Jakarta sudah berada pada kategori tercemar berat.Baca juga: Gratis dan Lepas Stres, Warga Jakarta Pilih Mancing di Kali yang Tercemar LimbahKondisi ini berdampak pada menurunnya kualitas ekosistem sungai dan kematian biota air.“Misalnya penggunaan plastik, umpan berbahaya, puntung rokok, hingga senar pancing yang dibuang sembarangan dapat memperburuk kualitas air sungai,” jelas Mahawan.Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menilai aktivitas memancing berpotensi memperburuk kondisi sungai apabila dilakukan secara tidak tertib.Humas DLH Jakarta, Yogi Ikhwan, mengatakan penggunaan umpan berbahan berbahaya serta kebiasaan membuang sampah di bantaran kali dapat menambah beban pencemaran.“Kegiatan memancing bisa memperburuk kualitas air sungai apabila dilakukan dengan menggunakan umpan dengan bahan berbahaya (non-alami),” tutur Yogi dalam keterangan tertulisnya.DLH mencatat, hingga kini masih terdapat 13 anak sungai di Jakarta yang berada dalam kondisi tercemar.Baca juga: Wapres Gibran Meriahkan Acara Mancing Mania Gratis di BekasiDari 120 titik sungai yang dipantau, sekitar 60 persen telah masuk kategori tercemar berat, 34 persen tercemar sedang, dan tujuh persen tercemar ringan.Kali Cengkareng Drain yang kerap menjadi lokasi memancing warga juga termasuk dalam kategori cemar sedang dan mendekati cemar berat, dengan nilai Indeks Pencemar (IP) berkisar 9,37 hingga 9,87.Meski demikian, sebagian pemancing mengaku tetap berupaya meminimalkan dampak terhadap lingkungan.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-01-16 20:01