Bencana Iklim 2025 Renggut Lebih dari Rp 2.000 Triliun, Asia Paling Terdampak

2026-02-03 03:13:51
Bencana Iklim 2025 Renggut Lebih dari Rp 2.000 Triliun, Asia Paling Terdampak
- Bencana iklim sepanjang tahun 2025 telah merugikan dunia lebih dari 120 miliar dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 2.012,8 triliun).Kerugian sebenarnya mungkin bisa jauh lebih besar karena bencana di negara-negara berkembang sebagian besar tidak diasuransikan dan tak tercatat.Baca juga:"Sementara negara-negara kaya menghitung kerugian finansial akibat bencana, jutaan orang di Afrika, Asia, dan Karibia menghitung nyawa yang hilang, rumah yang hancur, dan masa depan yang sirna," kata Direktur Power Shift Africa yang berbasis di Nairobi, Mohamed Adow, dikutip dari Independent.co.uk, Senin .Tinjauan terhadap peristiwa cuaca ekstrem tahun ini menunjukkan bahwa Asia menyumbang empat dari enam bencana iklim termahal sepanjang tahun 2025.Banyak bencana paling mematikan di tempat lain tidak termasuk dalam daftar peristiwa dengan biaya tertinggi karena kerugian finansialnya tidak diasuransikan.Analisis yang dilakukan oleh lembaga amal Christian Aid mengidentifikasi 10 bencana terkait iklim yang masing-masing menyebabkan kerusakan lebih dari 1 miliar dollar AS (sekitar Rp 16,7 triliun), dengan total kerugian gabungan melebihi 122 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.047,2 triliun).Sebagian besar angka tersebut didasarkan pada kerugian yang diasuransikan yang cenderung paling tinggi di negara-negara kaya, dengan nilai properti yang tinggi dan cakupan asuransi yang lebih luas.Kebakaran hutan di California, AS, menyebabkan kerugian lebih dari 60 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.006,8 triliun) dan menyebabkan lebih dari 400 kematian. Bencana ini menjadikannya bencana tunggal termahal tahun ini.Namun, Asia mendominasi daftar secara keseluruhan.Baca juga: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja Foto udara kondisi sekitar jembatan darurat di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Kamis . Warga masih melintasi jembatan darurat dari batang kayu akibat jalan dan jembatan penghubung antara Kabupaten Tapanuli Selatan menuju Tapanuli Tengah-Sibolga serta Medan putus diterjang banjir bandang pada Selasa . Siklon dan banjir di Asia bagian selatan dan tenggara pada November 2025 lalu menyebabkan kerugian sekitar 25 miliar dollar AS (sekitar Rp 419,4 triliun) dan menewaskan lebih dari 1.750 orang di Thailand, Indonesia, Sri Lanka, Vietnam, dan Malaysia.Banjir di China menyebabkan kerugian 11,7 miliar dollar AS (sekitar Rp 196,3 triliun) dan menewaskan sedikitnya 30 orang, sedangkan banjir dan tanah longsor di India dan Pakistan menewaskan lebih dari 1.860 orang dan memengaruhi jutaan orang.Topan di Filipina menyebabkan kerugian lebih dari lima miliar dollar AS (sekitar Rp 83,8 triliun) dan berdampak pada lebih dari 1,4 juta orang.Di banyak negara berkembang, bencana dengan dampak kemanusiaan yang parah dinilai sama sekali tidak muncul dalam peringkat biaya global.Banjir di Nigeria dan Republik Demokratik Kongo menewaskan ratusan orang, sedangkan kekeringan berkepanjangan di Iran dan Asia Barat telah menyebabkan hingga 10 juta orang di Teheran menghadapi prospek evakuasi karena kekurangan air.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-02-03 01:45