JAKARTA, - Totebag, matcha, feminism book, check!Ketika melihat ada cowok dengan stater pack ini, apa yang langsung terlintas di benak kalian? Apakah laki-laki ini benar benar aware dengan nilai yang ia tampilkan, atau hanya “settingan” demi bisa menarik atensi perempuan?Pertanyaan itu makin sering muncul belakangan, seiring ramainya pembahasan soal performative male di media sosial.Sebuah fenomena ketika laki-laki, terutama Gen Z, menampilkan gaya hidup yang dianggap progresif, soft, dan aman di mata perempuan.Baca juga: Mengenal Fenomena Performative Male, Tren Baru atau Sekadar Pencitraan di Media Sosial?Bukan selalu karena minat yang benar-benar lahir dari diri sendiri, melainkan karena ingin terlihat menarik, relevan, dan layak divalidasi.Namun, apakah setiap laki-laki yang memakai totebag, meminum matcha, dan membaca buku dan menyuarakan feminisme bisa langsung dicap performatif?Onel (19 tahun) menolak anggapan itu. Ia tidak merasa dirinya termasuk dalam kategori performative male, meskipun aktivitas yang ia lakukan sering diasosiasikan dengan label tersebut.“Menurut aku performative male itu sesuai apa yang teman-teman aku bilang ya, terus aku juga udah lihat di website, performative male itu ada karena toxic masculinity. Menurut aku itu aku enggak relate sih karena jujur aku menggunakan dan hidup dengan apa yang aku miliki dan yang nyaman aku pakai gitu.” ujar Onel.Baca juga: Feminisme Kemarin, Hari Ini dan NantiMinum matcha dan membaca buku di kafe, bagi Onel, adalah aktivitas yang ia lakukan karena ia menyukainya.“Dan aku tuh emang suka matcha terus juga suka baca buku di kafe. Tapi tuh bukan yang kayak karena biar kelihatan keren, tapi emang aku mencoba untuk baca buku dan emang menggunakan hal-hal yang aku nyaman gitu.”Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menyesuaikan gaya hidup demi terlihat “soft boy” di mata perempuan.“Aku enggak pernah menyesuaikan diri supaya dilihat cewek sebagai nilai plus gitu.” imbuh dia.Kalau Onel mewakili POV dari laki-laki, bagaimana perempuan Gen Z melihat fenomena ini?Alya (19) melihat performative male sebagai cowok yang tidak punya jati diri. Ia mengaku suka cowok yang baca buku, tetapi merasa bisa membedakan mana yang tulus mana yang hanya “pencitraan”.“I honestly like men who read books, tapi cowok yang genuinely like reading books sama cowok yang maksa keliatan nerd tuh beda," kata dia
(prf/ega)
Matcha, Tote Bag, dan Pencitraan, Ketika Performative Male Jadi Gaya Andalan
2026-01-11 14:37:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 15:01
| 2026-01-11 14:48
| 2026-01-11 14:46
| 2026-01-11 14:26
| 2026-01-11 14:19










































