Cinta Laura Terapkan Hidup Sehat Sejak Usia 20 Tahun, Terinspirasi Orangtua

2026-01-17 01:45:53
Cinta Laura Terapkan Hidup Sehat Sejak Usia 20 Tahun, Terinspirasi Orangtua
JAKARTA, - Kesadaran menjaga kesehatan sejak usia muda menjadi prinsip yang dipegang teguh oleh aktris Cinta Laura. Di tengah aktivitas padat dan tuntutan pekerjaan yang tinggi, Cinta memilih untuk berinvestasi pada kualitas hidup jangka panjang. Salah satu langkah yang ia lakukan adalah rutin mengonsumsi suplemen vitamin sejak memasuki usia 20-an.Aktris 32 tahun ini membagikan pandangannya tentang pentingnya hidup sehat sejak dini, peran suplemen sebagai penunjang nutrisi, serta inspirasi gaya hidup aktif yang ia dapatkan dari orangtuanya.Baca juga: Pentingnya Pemanasan Sebelum Olahraga, Cukup 5-10 Menit untuk Cegah CederaBagi Cinta, titik awal kesadaran hidup sehat muncul ketika ia memahami bahwa kebutuhan nutrisi tubuh tidak selalu bisa terpenuhi hanya dari makanan sehari-hari. Pemahaman tersebut membuatnya mulai memperhatikan apa yang ia konsumsi, termasuk kebutuhan vitamin dan mineral dari suplemen vitamin.“Aku mulai aware untuk konsumsi suplemen vitamin itu sejak awal usia 20 tahunan, karena pada saat itu aku sadar kalau enggak semua makanan yang kita makan bisa mencukupi kebutuhan tubuh,” kata Cinta dalam acara Blackmores Healthy Beauty from Within, di Jakarta Selatan, Kamis .Kesadaran ini menandai perubahan cara pandang Cinta terhadap kesehatan. Ia mulai melihat suplemen bukan sebagai pelengkap semata, tetapi bagian dari rutinitas hidup sehat yang terencana dan berkelanjutan.Baca juga: Cinta Laura Ajak Konsisten Hidup Sehat, Mulai dari Langkah KecilSetelah mendalami berbagai informasi, pemeran film ‘Devil On Top’ ini menyimpulkan bahwa suplemen memiliki peran penting dalam menunjang kesehatan tubuh. Ia mengaku tidak serta-merta mengonsumsi suplemen tanpa dasar, melainkan melalui proses pencarian informasi dan riset.“Setelah melakukan banyak riset, memang terbukti bahwa suplemen itu bisa meningkatkan kualitas hidup kita,” ujarnya.Menurut Cinta, kualitas hidup tidak hanya diukur dari penampilan luar, tetapi juga dari daya tahan tubuh, energi harian, dan kemampuan menjalani aktivitas dengan optimal. Dengan nutrisi yang tercukupi, tubuh menjadi lebih siap menghadapi tekanan fisik maupun mental.Baca juga: Cara Cegah Cedera Olahraga ala Yuki Kato, Latihan yang TerencanaKomitmen Cinta menjalani hidup sehat sejak muda juga dilandasi oleh visinya tentang masa depan. Ia ingin menua dengan tubuh yang tetap bugar dan aktif, tanpa kehilangan kualitas hidup.“Aku pun ingin aging gracefully. Suatu hari nanti kalau aku udah usia 60-70 tahun, tetap kayak gini. Makanya aku harus berinvestasi ke diri sendiri dari muda,” tutur Cinta.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-16 23:46