Suspensi Dibuka, Saham INET Diproyeksi Melesat ke Rp 1.350

2026-01-12 06:21:52
Suspensi Dibuka, Saham INET Diproyeksi Melesat ke Rp 1.350
JAKARTA, - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi membuka kembali suspensi perdagangan saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) di Pasar Reguler dan Pasar Tunai, serta Waran Seri I (INET-W) di seluruh pasar. Pembukaan suspensi tersebut efektif mulai sesi I perdagangan pada Rabu .Keputusan BEI ini disambut positif oleh analis pasar. Dalam riset terbarunya, Samuel Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi Spec-BUY untuk saham INET dan menaikkan target harga secara signifikan menjadi Rp 1.350 per saham. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan hingga 74,2 persen dari harga penutupan terakhir di level Rp 775.Revisi kenaikan target harga ini ditopang oleh perbaikan proyeksi laba, serta penguatan kinerja perseroan pada kuartal III-2025. Sepanjang sembilan bulan pertama 2025, INET membukukan kinerja yang melesat jauh di atas ekspektasi.Baca juga: BEI Buka Suspensi 3 Saham Ini, Salah Satunya Punya Haji IsamPendapatan tercatat sebesar Rp 68,6 miliar atau tumbuh 190,5 persen secara tahunan (YoY). Laba bersih juga melonjak 818,9 persen menjadi Rp 19,4 miliar, setara 86 persen dari estimasi setahun penuh Samuel Sekuritas.Pertumbuhan pendapatan terutama berasal dari segmen layanan internet (ISP) yang menyumbang Rp 67 miliar atau naik 188,4 persen YoY. Kinerja ini turut terdorong oleh lonjakan jumlah pelanggan PT Solusi Sinergi Digital (WIFI), mitra INET, yang tumbuh pesat dari 220.000 pelanggan pada Desember 2024 menjadi 1,5 juta pelanggan pada September 2025.Samuel Sekuritas juga menyoroti peningkatan signifikan pada sisi profitabilitas. Pada kuartal III-2025, INET membukukan gross profit margin (GPM) sebesar 66,3 persen, meningkat dari 51,6 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.Marjin EBITDA melompat tajam menjadi 76,4 persen dari 26,8 persen, dengan nilai EBITDA mencapai Rp 18 miliar atau naik 728,8 persen YoY.Perseroan tengah menyiapkan rencana ekspansi besar yang membutuhkan pendanaan sekitar Rp 4,2 triliun. Dana tersebut akan diperoleh melalui rights issue sebesar Rp 3,2 triliun pada 2025, yang saat ini menunggu persetujuan OJK, serta penerbitan obligasi senilai Rp 1 triliun pada 2026.Pendanaan tersebut akan dialokasikan untuk pembangunan kabel bawah laut, proyek Fiber To The Home (FTTH), layanan internet berbasis node, serta akuisisi PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) dan PT Trans Hybrid Communication (THC) guna memperkuat kapasitas kontraktor FTTH dan managed services.Baca juga: Emiten Prajogo Pangestu Chandra Daya Investasi (CDIA) Masih Kena SuspensiDengan dukungan ekspansi tersebut, proyeksi laba INET ke depan diperkirakan semakin agresif. Pada 2026, laba bersih diproyeksikan mencapai Rp 257 miliar atau tumbuh 849,2 persen YoY, dan melesat menjadi Rp 736 miliar pada 2027 atau tumbuh 185,7 persen YoY.Samuel Sekuritas memasang target harga baru Rp 1.350 per saham, mengacu pada valuasi EV/EBITDA 2027F di kisaran 25 kali. Dalam risetnya, INET disebut sebagai salah satu operator ISP dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia, seiring meningkatnya kebutuhan internet berkecepatan tinggi untuk bekerja, hiburan, dan kebutuhan rumah tangga.Meski prospeknya kuat, beberapa risiko tetap perlu dicermati, seperti potensi keterlambatan ekspansi, pertumbuhan pelanggan yang tidak sesuai proyeksi, serta tekanan daya beli masyarakat.Untuk tahun 2026, pendapatan INET diperkirakan mencapai Rp 942 miliar atau tumbuh 284 persen YoY, dengan marjin EBITDA berada pada kisaran 66-70 persen.


(prf/ega)