Serangan Drone Hantam Rumah Sakit Militer di Sudan Selatan, 7 Orang Tewas

2026-02-04 18:26:36
Serangan Drone Hantam Rumah Sakit Militer di Sudan Selatan, 7 Orang Tewas
Serangan drone menghantam sebuah rumah sakit militer di kota Dilling, Sudan selatan. Seorang petugas kesehatan di rumah sakit tersebut mengatakan insiden itu menyebabkan "tujuh warga sipil tewas dan 12 luka-luka."Dilansir AFP, Senin (16/12/2025) petugas medis yang tidak ingin disebut identitasnya menjelaskan bahwa para korban terdiri dari pasien serta pendamping mereka. Ia menambahkan bahwa rumah sakit militer tersebut "melayani penduduk kota dan sekitarnya, selain personel militer". Peristiwa itu terjadi pada Minggu (14/12) waktu setempat.Kota Dilling berada di negara bagian Kordofan Selatan yang selama ini rawan konflik. Wilayah tersebut saat ini berada di bawah kendali tentara Sudan, namun dikepung oleh pasukan paramiliter rival.Kordofan Raya kini menjadi salah satu medan pertempuran paling sengit dalam perang Sudan antara militer dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF), seiring upaya kedua pihak untuk menguasai wilayah selatan yang luas.RSF dilaporkan mengendalikan sebagian besar wilayah Kordofan bersama sekutu mereka, faksi Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan-Utara (SPLM-N) yang dipimpin Abdelaziz al-Hilu, yang memiliki basis historis di Pegunungan Nuba. Pasukan gabungan tersebut mengepung sejumlah kota utama di kawasan itu dengan divisi-divisi militer, termasuk Dilling serta ibu kota Kordofan Selatan, Kadugli, yang berjarak sekitar 120 kilometer di sebelah selatan.Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan bahwa kelaparan telah melanda Kadugli sejak September. PBB juga memperkirakan Dilling menghadapi kondisi serupa, meski keterbatasan akses data menghambat penetapan status resmi. Serangan drone itu terjadi sehari setelah insiden serupa yang menghantam pangkalan pasukan penjaga perdamaian PBB di Kadugli, yang menewaskan enam tentara asal Bangladesh.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Sekretariat Satgas PASTI, Hudiyanto, mengatakan sejak IASC beroperasi pada 22 November 2024 hingga 11 November 2025, lembaga itu telah menerima 343.402 laporan penipuan. Laporan tersebut menunjuk 563.558 rekening yang terkait aktivitas penipuan, di mana 106.222 rekening telah diblokir.Dari keseluruhan laporan, total kerugian yang dilaporkan korban mencapai Rp 7,8 triliun, sementara upaya pemblokiran dana berhasil menahan Rp 386,5 miliar.“Sejak awal beroperasi di tanggal 22 November 2024 sampai dengan 11 November 2025, IASC telah menerima 343.402 laporan penipuan. Total rekening terkait penipuan yang dilaporkan ke IASC sebanyak 563.558 rekening dengan 106.222 rekening telah dilakukan pemblokiran,” ujar Hudiyanto lewat keterangan pers, Sabtu .Baca juga: Penipuan AI Deepfake Kian Marak, Keamanan Identitas Digital Diuji“Adapun total kerugian dana yang dilaporkan oleh korban penipuan sebesar Rp 7,8 triliun dengan dana yang telah berhasil diblokir sebesar Rp 386,5 miliar,” paparnya. Menurut Hudiyanto, angka-angka itu memperlihatkan sejauh mana pelaku memanfaatkan platform digital untuk menjerat korban, mulai dari pinjaman online alias pinjol ilegal hingga tawaran investasi palsu, sehinggga penindakan masif diperlukan untuk melindungi konsumen.Sebagai bagian dari penindakan, Satgas PASTI kembali memblokir 776 aktivitas dan entitas keuangan ilegal, yang terdiri atas 611 entitas pinjaman online ilegal, 96 penawaran pinjaman pribadi (pinpri), dan 69 tawaran investasi ilegal.

| 2026-02-04 17:36