Hari Pertama IPO, Superbank (SUPA) Ungkap Cara Menjaga Kinerja Usai Euforia Pasar

2026-01-12 06:40:54
Hari Pertama IPO, Superbank (SUPA) Ungkap Cara Menjaga Kinerja Usai Euforia Pasar
JAKARTA, - PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) atau Superbank mencuri perhatian pasar usai resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu . Pada hari pertama perdagangan, saham SUPA melonjak 24,41 persen ke level Rp 790 per saham, jauh di atas harga penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) sebesar Rp 635 per saham.Lonjakan harga saham tersebut mencerminkan tingginya minat investor terhadap emiten bank digital ini. Namun demikian, di tengah euforia perdagangan perdana, muncul pula pertanyaan mengenai strategi perseroan dalam menjaga pergerakan harga saham agar tetap sehat dan berkelanjutan, tidak hanya menguat sesaat di awal pencatatan.Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan, mengatakan pergerakan harga saham sepenuhnya merupakan mekanisme pasar. Menurutnya, manajemen tidak secara langsung mengatur harga saham, melainkan berfokus pada penguatan fundamental bisnis agar kinerja perseroan terus bertumbuh dalam jangka panjang.“Oh harga saham bagaimana supaya ini, kalau pergerakan saham menurut saya sih itu pergerakan market ya, yang kita fokuskan adalah bagaimana kita bisa menjaga fundamental dari bisnis kita untuk growing ke depannya,” ujar Tigor saat ditemui di gedung BEI, Jakarta Selatan. Baca juga: Modal Inti Tembus Rp 8 Triliun, Superbank (SUPA) Masuk KBMI 2 Saat IPOFokus utama Superbank dalam membangun bisnis yang berkelanjutan. Emiten baru ini menekankan pentingnya kemampuan untuk terus mengakuisisi nasabah baru, sekaligus memberikan layanan berkualitas agar nasabah tetap aktif menggunakan produk bank. Dari aktivitas tersebut, SUPA menargetkan peningkatan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebagai cerminan kinerja inti perbankan. Pada saat yang sama, perseroan juga membidik pertumbuhan laba sebelum pajak atau profit before tax (PBT) yang diharapkan dapat terus meningkat hingga tahun 2026. Dengan kata lain, strategi yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga pada penguatan fundamental bisnis agar kinerja keuangan dapat tumbuh secara berkelanjutan.“Bagaimana kita bisa akuisisi nasabah, melayani nasabah, menghasilkan NII, menghasilkan PBT, profit before tax yang kita harapkan terus growing di tahun 2026,” paparnya. Baca juga: Usai IPO, Superbank (SUPA) Bidik Pertumbuhan Agresif Lewat Ekosistem Grab dan OVOLebih jauh, SUPA menargetkan akselerasi pertumbuhan bisnis usai sahamnya diperdagangkan secara perdana di Bursa Efek Indonesia hari ini. Dengan dukungan modal sebesar Rp 8 triliun, emiten memfokuskan strategi pada pendalaman bisnis di ekosistem digital yang telah dimiliki, terutama Grab dan OVO.Tigor menjelaskan kerja sama strategis terus ditekankan perseroan melalui pendalaman ekosistem yang dimiliki. Kolaborasi itu dinilai telah berjalan cukup dalam, namun masih memiliki ruang yang besar untuk dikembangkan lebih lanjut.Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui OVO dengan menghadirkan produk OVO Nabung by Superbank, yang memungkinkan pengguna hanya dengan beberapa langkah atau klik langsung menjadi nasabah Superbank tanpa harus keluar dari lingkungan aplikasi OVO.Strategi serupa juga diterapkan di aplikasi Grab. Melalui integrasi layanana pengguna dapat langsung membuka rekening dan menjadi nasabah Superbank dari dalam aplikasi Grab tanpa perlu berpindah ke platform lain.“Jadi kerja sama strategis, kami terus tekankan kepada ekosistem kita. Jadi, memang sudah cukup dalam, tapi kita banyak bisa perdalam lagi dengan OVO, ada produk kita namanya OVO Nabung, di mana nasabah dengan beberapa klik bisa menjadi nasabah Superbank di dalam OVO environment,” ucap Tigor.“Jadi, we want to be native in that apps. Jadi, di Grab App itu sendiri itu bisa langsung menjadi nasabah Superbank di Grab App itu sendiri,” katanya.Baca juga: IPO Superbank (SUPA) Cetak Rekor, Oversubscribed 318,69 Kali dan Lebih dari 1 Juta Order


(prf/ega)