Kalteng Alami Masalah Distribusi Guru, Menumpuk di Perkotaan, Minim di Perdesaan

2026-01-12 07:04:15
Kalteng Alami Masalah Distribusi Guru, Menumpuk di Perkotaan, Minim di Perdesaan
PALANGKA RAYA, - Masalah distribusi guru yang tidak merata, dengan penumpukan di perkotaan dan kekurangan di wilayah pedesaan, masih menjadi tantangan di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).Untuk mengatasi persoalan ini, Pemerintah Provinsi Kalteng berupaya menerapkan pembelajaran jarak jauh.Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kalteng, Muhammad Reza Prabowo, mengungkapkan bahwa permasalahan pendidikan di Kalteng tidak hanya terkait dengan jumlah siswa yang sedikit, tetapi juga dengan minimnya tenaga pengajar.Baca juga: Mengabdi dengan Cinta, Honor dari Patungan Sesama Guru: Kisah Bu Saras, Guru Honorer di Kulon Progo“Di perdesaan guru kita minim, cenderung menumpuk di kota. Selain siswanya minim, ternyata gurunya juga minim,” ungkap Reza saat diwawancarai oleh awak media usai menghadiri upacara peringatan Hari Guru Nasional 2025 di SMAN 5 Palangka Raya, Selasa .Reza menjelaskan bahwa kekurangan guru terjadi di banyak daerah, termasuk Kalteng.Pihaknya berkomitmen untuk menciptakan kualitas pendidikan yang setara antara wilayah perkotaan dan perdesaan, termasuk dengan memastikan distribusi guru yang memadai.“PR kami adalah bagaimana menciptakan kualitas pendidikan yang ada di pedalaman dengan yang di perkotaan itu nggak jauh gap-nya, karena anak-anak kita yang di pedalaman juga punya hak yang sama untuk bisa mendapatkan pendidikan berkualitas seperti anak-anak di perkotaan,” jelasnya.Tantangan utama dalam distribusi guru ke wilayah pedesaan di Kalteng, menurut Reza, adalah penyediaan jaring pengaman sosial bagi guru yang harus tinggal di pelosok.Baca juga: Modal Jual Cincin Pernikahan, Bu Tari Buktikan Guru Juga Bisa Jadi Pengusaha TangguhJaring pengaman sosial ini meliputi tunjangan, biaya pindah, tempat tinggal, serta tunjangan untuk anak dan pasangan guru.“Kalau kita melakukan mutasi guru ke pedesaan, kita juga harus siapkan jaring-jaringnya, seperti tunjangan, karena untuk pindah ke pelosok perlu effort lebih. Dia harus mindahin sama suaminya atau istrinya ama anaknya. Terus juga tempat tinggalnya harus kita pikirkan,” ujarnya.Dalam upaya mengatasi masalah ini, pihak Dinas Pendidikan Kalteng menggagas program digitalisasi untuk menerapkan pola pembelajaran jarak jauh.Reza menjelaskan bahwa guru-guru yang tinggal di wilayah perkotaan tidak perlu melakukan perjalanan jauh ke desa untuk memberikan materi, melainkan dapat melakukannya melalui pertemuan tatap muka secara daring.Baca juga: Ketika Murid-murid SDN Pekuncen Pasuruan Rayakan Hari Guru Tanpa Bingkisan“Dengan adanya dukungan digitalisasi ini, kekurangan guru yang ada di sekolah-sekolah terpencil bisa kita penuhi dengan pembelajaran hybrid. Dia mengajar di kota, tapi dua layarnya, satu konek ke ujung Kalimantan Tengah dan interaktif,” beber Reza.Untuk daerah-daerah pelosok yang belum terjangkau oleh listrik dan internet, pihaknya menyediakan panel surya dan internet StarLink agar proses pembelajaran jarak jauh dapat dilakukan.“Kami sudah membagikan listrik dan internet gratis agar sistem pembelajaran jarak jauh ini bisa diterapkan, sehingga dapat mengatasi kekurangan sumber daya guru di pelosok,” tuturnya.


(prf/ega)