Kilang Cilacap, Bukti Transformasi Pertamina Menuju Energi Hijau

2026-02-02 19:29:30
Kilang Cilacap, Bukti Transformasi Pertamina Menuju Energi Hijau
JAKARTA, – Upaya menekan emisi dan mempercepat transisi energi di Indonesia mulai menunjukkan hasil. Kilang Pertamina Internasional (KPI) lewat unit operasinya di Cilacap kini menjadi pelopor dalam pengolahan energi hijau di Tanah Air.Pjs. Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani, menjelaskan bahwa pengembangan energi hijau dan rendah karbon menjadi salah satu strategi utama perusahaan dalam menghadapi tantangan energi masa depan.“Mengembangkan bisnis energi hijau dan rendah karbon merupakan salah satu dari dua strategi pertumbuhan ganda KPI. Strategi lainnya adalah memperkuat bisnis eksisting dengan meningkatkan kapasitas kilang dalam mengolah minyak mentah menjadi BBM,” ujar Milla melalui keterangannya, Rabu .Di Kilang Cilacap, KPI menjalankan dua proyek strategis yang berorientasi pada bahan bakar ramah lingkungan. Pertama adalah Proyek Blue Sky Cilacap yang mulai beroperasi sejak Agustus 2019. Proyek ini bertujuan meningkatkan kualitas produk bahan bakar minyak (BBM) jenis gasoline dari standar Euro 2 menjadi Euro 5, yang lebih ramah lingkungan.Baca juga: Usai Dikritik di DPR, Dirut Pertamina Sambangi Menkeu Purbaya Bahas Kilang Minyak Baru Menurut Milla, peningkatan kualitas BBM dilakukan menggunakan teknologi Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) serta pembangunan fasilitas pendukung seperti New Platformer dan Sulfur Recovery Unit. Teknologi tersebut menekan kadar sulfur dalam BBM sehingga emisi gas buang kendaraan menjadi lebih bersih.“Melalui Proyek Blue Sky Cilacap kami menghadirkan BBM setara Euro 5 yang dirancang untuk mengurangi emisi gas buang kendaraan bermotor. Ini sejalan dengan regulasi emisi yang menjadi acuan global,” jelasnya.Proyek ini berhasil meningkatkan produksi Gasoline RON 92 dari 23 ribu barrel per hari menjadi 53 ribu barrel per hari.Selain meningkatkan kualitas bahan bakar fosil, Kilang Cilacap juga mempelopori pengolahan bahan bakar nabati melalui Proyek Green Refinery Cilacap Phase 1 yang beroperasi sejak Februari 2022.Baca juga: Kilang Balongan Pertamina Perkuat Keselamatan dengan Teknologi dan Filosofi JawaDalam proyek ini, kilang memproduksi Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) atau diesel terbarukan dari minyak nabati (minyak sawit), dengan merek dagang Pertamina RD. Kapasitas produksi HVO di kilang ini mencapai 3 ribu barrel per hari, menggunakan bahan baku Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO).Tak berhenti di situ, KPI juga mengembangkan Pertamina Sustainable Aviation Fuel (PertaminaSAF) — bahan bakar pesawat yang diolah dari minyak jelantah dengan metode co-processing Katalis Merah Putih, hasil inovasi anak bangsa. Kilang Cilacap mampu memproduksi 9 ribu barrel PertaminaSAF per hari.“PertaminaSAF menjadi solusi inovatif dalam menjawab tantangan emisi karbon dari sektor penerbangan, sekaligus memperkuat komitmen Indonesia terhadap transisi energi,” ungkap Milla.Baca juga: Kilang Plaju, Penjaga Energi yang Tetap Perkasa di Atas Usia 100 Tahun


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-02 18:41