Ibadah Misa Natal 2025 di Gereja Katedral Selesai, Berjalan Aman dan Lancar

2026-01-12 05:45:10
Ibadah Misa Natal 2025 di Gereja Katedral Selesai, Berjalan Aman dan Lancar
Prosesi ibadah misa Natal 2025 di gereja Katedral, Jakarta Pusat, selesai dilaksanakan dalam empat sesi hari ini. Ibadah misa natal yang berjalan sejak pagi hingga malam hari ini pun terlaksana dengan aman dan lancar."Puji Tuhan akhirnya terlaksana seluruh rakaian misa hari Natal. Dari sejak malam Natal, kemudian hari Natal pada hari ini, berjalan lancar," ujar Humas Gereja Katedral Jakarta Susyana Suwadie kepada wartawan di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Kamis (25/12/2025).Susy menyebut semua proses ibadah para umat berjalan lancar meskipun hujan deras dan angin kencang sempat menguyur serta menerpa titik lokasi ibadah misa natal yang berada di bagian luar gereja.Dia menyampaikan, jumlah umat yang datang pun begitu banyak dari empat sesi ibadah misa Natal yang terselenggara hari ini. Malahan, kata dia, untuk misa malam Natal kemarin, jumlah umat yang datang melebihi kapasitas Gereja Katedral."(Jumlah jemaat yang hadir) sesuai sih dengan ekspektasi kami. Bahkan, tampungan daya 5 ribu itu ternyata malah kurang untuk pukul 17.00 WIB malam Natal. Jadi ini juga nanti akan bisa dievaluasi bagi kami semua," ungkap Susy.Susy menjelaskan, pada misa pontifikal pagi tadi, jumlah jemaat yang hadir berkisar 3.500 jemaat. Sementara, pada sesi kedua dan ketiga jumlahnya jika ditotal juga mencapai 3.500 jemaat."Kemudian terakhir di pukul 18.00 WIB ini yang tidak terduga. Karena ternyata kurang lebih sekitar 2.000, karena mengenai gereja Plaza Maria, Graha Pemuda Lantai 1 dan 4 dan Kapel Lantai 2. Jadi kurang lebih sekitar 2.000 sampai 2.500 umat sekitar itu," kata dia."Semuanya tetap berjalan dengan lancar dan umat juga mengikuti arahan-arahan dan sehingga mereka pun bisa menuntaskan misa sampai selesai," imbuhnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-01-12 03:54