- Kementerian Transmigrasi (Kementrans) bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Selatan dan Maluku Utara menjalin kerja sama dengan Pemerintah China untuk mengembangkan kawasan transmigrasi berbasis konektivitas, inklusivitas, dan keberlanjutan.Hal tersebut ditegaskan dalam pertemuan yang digelar di Kedutaan Besar China, Jakarta, Kamis .Pertemuan yang turut dihadiri Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo dan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda itu menghasilkan sejumlah inisiatif investasi di sektor pangan, kelapa, perikanan, dan pendidikan vokasi.Menteri Transmigrasi (Mentrans) M Iftitah Sulaiman Suryanagara menjelaskan, pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan kerja Kementrans ke China beberapa waktu lalu yang fokus pada investasi dan kolaborasi di sektor pangan, perkebunan, perikanan, serta pendidikan vokasi. Baca juga: Investor China, Rusia, dan AS Lirik Proyek Kereta di Luar Jawa“Ada beberapa hal yang kami bahas. Pertama, kami akan menindaklanjuti kerja sama pertanian, khususnya padi,” kata Iftitah dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa ."November nanti, investor dari China akan kami ajak ke (kawasan transmigrasi) Papua Selatan untuk mengembangkan kawasan sentra pangan," lanjutnya.Duta Besar (Dubes) China untuk Indonesia Wang Lu Tong menyambut baik rencana kolaborasi tersebut dan menilai hubungan kedua negara telah memasuki tahap yang lebih strategis dan produktif.“Kunjungan dan pembahasan yang dilakukan oleh Pak Menteri sangat berhasil. Kami melihat potensi besar kerja sama di bidang pertanian, perikanan, konektivitas, pariwisata, hingga pengembangan kawasan transmigrasi. Kami juga menantikan kunjungan ke Maluku Utara dan Papua Selatan untuk melihat langsung potensi di lapangan,” kata Wang Lu Tong.Baca juga: Pulau Obi Jadi Episentrum Baru Ekonomi Maluku Utara Selain sektor pertanian, pengembangan kawasan transmigrasi juga menyoroti komoditas kelapa di Maluku Utara. “Akhir tahun ini juga akan datang investor ke Halmahera Utara untuk (melihat komoditas) sektor kelapa. Konsumsi kelapa di China mencapai lebih dari empat miliar butir per tahun, sementara produksinya baru mampu memenuhi sekitar satu miliar butir. Ini peluang besar bagi kita,” jelas Iftitah.Kerja sama juga diarahkan pada penguatan sumber daya manusia (SDM) di kawasan transmigrasi. Pemerintah China telah membangun Lembaga Pendidikan Kerja di Sofifi, Maluku Utara, agar program serupa juga dikembangkan di Papua Selatan.Baca juga: Mentrans Upayakan Pengiriman Bantuan Secepatnya ke 5 Kawasan Transmigrasi di SumateraDalam kesempatan tersebut, Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda menyampaikan optimismenya terhadap langkah konkret yang telah dirintis dalam pertemuan ini. “Kami berdiskusi panjang tentang potensi hilirisasi kelapa, pertanian, perikanan, pendidikan, dan pariwisata. Kami sangat mengapresiasi dukungan dari Kementrans dan Pemerintah China, terutama rencana kunjungan Dubes bersama para investor ke daerah kami,” ujarnya.Dok. Kementrans Pertemuan Mentrans Iftitah, Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo, dan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, dengan Dubes China di Jakarta, Kamis .Dalam waktu dekat, Kementrans juga akan menggelar Business Forum Indonesia–China yang akan mempertemukan ratusan investor asal China dengan pemerintah daerah (pemda) untuk mempresentasikan potensi dan peluang investasi di kawasan transmigrasi.
(prf/ega)
Kementrans Gandeng Investor China, Kembangkan Potensi Ekonomi Lokal lewat Komoditas Unggulan
2026-01-12 06:13:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:03
| 2026-01-12 05:36
| 2026-01-12 05:00
| 2026-01-12 04:16










































