Kulit Tampak Lebih Tua dan Keriput? Bisa Jadi Makanan Ini Penyebabnya

2026-02-02 17:11:51
Kulit Tampak Lebih Tua dan Keriput? Bisa Jadi Makanan Ini Penyebabnya
- Kulit sering dianggap hanya membutuhkan perawatan dari luar, padahal apa yang dikonsumsi setiap hari turut menentukan seberapa sehat dan awet muda tampilannya.Dilansir dari The Independent, konsumsi makanan tinggi garam tidak hanya berdampak pada tekanan darah dan jantung, tetapi juga berpotensi mempercepat penuaan kulit.Baca juga: Kaleidoskop Kecantikan 2025 Saat Makeup Tak Lagi Menutupi Kulit AsliDokter kulit dari Westlake Dermatology, dr. Timothy Tran, menjelaskan bahwa garam sebenarnya dibutuhkan tubuh untuk menjaga keseimbangan cairan, fungsi saraf, dan kontraksi otot.Namun, ketika dikonsumsi berlebihan, natrium justru memicu ketidakseimbangan yang sering kali pertama kali terlihat pada kulit.“Ketika asupan natrium terlalu tinggi, kulit menjadi salah satu organ pertama yang menunjukkan gangguan,” ujar Tran, dikutip dari The Independent.Baca juga: Tren Makeup 2025, Minimalis dan Tampilan Kulit Sehat Jadi FavoritUnsplash Ilustrasi kulit kering. Konsumsi makanan tinggi garam ternyata tidak hanya berdampak pada kesehatan jantung, tetapi juga bisa mempercepat penuaan kulit melalui gangguan hidrasi dan produksi kolagen.Asupan garam yang tinggi membuat tubuh menahan air berlebih sebagai mekanisme perlindungan, sehingga wajah bisa tampak sembap atau bengkak.Di sisi lain, air justru bisa tertarik keluar dari sel-sel kulit, menyebabkan kulit mengalami dehidrasi.Kondisi ini membuat kulit terlihat kering, kusam, dan garis halus menjadi lebih jelas.Baca juga: Manfaat Niacinamide dan Hyaluron untuk Menjaga Kesehatan Kulit KepalaDokter kulit Michael Lin menjelaskan bahwa tekanan darah tinggi akibat kelebihan garam dapat melemahkan struktur kulit dan mengganggu produksi kolagen.Kolagen adalah protein penting yang menjaga kulit tetap kencang, elastis, dan terhidrasi.“Ketika hidrasi kulit terganggu dan stres oksidatif meningkat, kolagen menjadi lebih mudah rusak,” kata Tran.Dalam jangka panjang, hal ini dapat memicu kulit kendur, tekstur kasar, dan keriput muncul lebih cepat.Natrium berlebih juga dikaitkan dengan peningkatan risiko eksim, kondisi kulit yang ditandai dengan kering, kemerahan, dan rasa gatal.Penelitian di San Francisco menemukan bahwa tambahan satu gram natrium per hari dapat meningkatkan risiko kambuhnya eksim lebih dari 20 persen.


(prf/ega)

Berita Lainnya

Berita Terpopuler

#3

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-02-02 16:59