Banjir Bandang di Padang Masa Kolonial Belanda

2026-01-12 19:43:51
Banjir Bandang di Padang Masa Kolonial Belanda
HUJAN telah berhenti, banjir telah surut, tapi bencana galodo di Kota Padang, Sumatera Barat pada November 2025, menjadi catatan buruk.Berserakannya tumpukan kayu gelondongan di pinggir pantai dan sungai-sungai menjadi tanda tanya besar, apakah begitu masifnya kerusakan ekologi yang terjadi di Kota Padang?Namun, catatan mengenai banjir besar di Padang tidak hanya terjadi hari ini. Lebih seabad lalu, berulang kali ditemukan kasus banjir yang berdampak pada korban jiwa dan kerugian materil di kota yang telah berusia 356 tersebut.Jauh sebelum abad ke-20, Padang merupakan kelompok dusun-dusun yang terserak di atas tanah gurun, yang didominasi oleh hutan rawa dan pohon rumbia, semakin kelihatan ciri yang aslinya sebagai dataran rendah rawan banjir.Sampai sekarang pun orang masih dapat mengenal nama-nama kampung yang sangat dekat hubungannya dengan topografis Padang “tempo doeloe”.Sebut saja kampung Pulau Air, Tarandam, Pulau Karam, Rawang dan Ganting. Semuanya dekat dengan air, bencah dan banjir. Di dataran rendah tanah gurun berawa-rawa itulah Padang diteroka dan didirikan dulunya (Zed, 2009).Baca juga: Surga yang Retak di Sumbar: Menggugat Dejavu Bencana Banjir November 2025Permukiman yang mula-mula di Padang menempati bagian selatan Batang Arau, yaitu di suatu kawasan yang sampai sekarang dikenal dengan Seberang Padang.Dari sini mereka berkembang dan sebagian pindah ke utara. Mereka mendirikan kampung baru, seperti Alang Laweh, Ranah, Parak Gadang dan Ganting. Kelompok pemukiman inilah yang menjadi cikal bakal dari Kota Padang (Amran, 1988).Gemeente Padang dengan luas sekitar 11,5 km, setelah direorganisasi tahun 1913, pemerintahan onder afdeelingnya disederhanakan menjadi tujuh daerah distrik. Ketujuh distrik tersebut ialah: Tanah Tinggi, Batang Harau, Binuang, Koto Tangah, Pauh, Sungkai dan V Lurah.Dari sudut pertumbuhan penduduknya, menurut catatan statistik tahun 1930, jumlah penduduk sebanyak 52.054 orang. Jumlah penduduk ini mengalami lonjakan dibandingkan tahun 1878 (27.971 jiwa) dan 1905 (47.000 jiwa).Pada tahun 1930, komposisi Kotapraja Padang terdiri dari kulit putih atau Eropa 2.592 jiwa, bumi putera berjumlah 40.744 jiwa, China 7.263 jiwa, dan Arab, India, Jepang berjumlah 1.455 jiwa (Asnan, 1992).Sejak ditingkatkannya status menjadi kotapraja, maka Padang mulai memperoleh hak desentralisasi untuk mengurus rumah tangga sendiri termasuk keuangan, yang selama ini ditentukan oleh pusat dilihat dari fasilitas kota, seperti pasar, kantor-kantor pemerintah dan fasilitas umum serta media pers, meskipun sebagian sudah ada sebelumnya, tetapi semuanya–mengalami perkembangan pesat sejak awal abad ke-20.Pasar-pasar yang tersebar di beberapa tempat membentuk kantong-kantong ekonomi kota sudah terbentuk sejak abad-abad sebelumnya dan sampai awal abad ini.Setidaknya terdapat sekitar lima pasar tempat transaksi jual-beli yang dikunjungi penduduk kota. Yang tertua adalah Pasar Gadang, terletak tidak jauh dari Muaro sebagai pusat kota lama.Sejak ditemukannya emas hitam di Sawahlunto, Padang pun berbenah. Modernisasi dan kemajuan industrialisasi segera menghampiri kota yang bercorak kolonial itu.Dimulai dengan pembangunan Pelabuhan Emmahaven (kini: Teluk Bayur) tahun 1888, ruas rel kereta api (1890), hingga dibangunnya pabrik semen Indarung oleh NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij (NV NIPCM) pada 1910 (Sufyan, 2020).Baca juga: Alam Takambang Jadi GuruNamun, di tengah modernisasi Padang, Kawasan ini rentan terhadap banjir. Faktor pemicunya adalah kombinasi curah hujan tinggi, kondisi geografis pesisir dan dataran rendah, tidak maksimalnya sistem drainase, pendangkalan sungai, kurangnya daerah resapan, serta perubahan tata guna lahan.Setidaknya dalam kurun waktu Kolonial Belanda, Padang beberapa kali direndam banjir. Setidaknya ada tiga jenis banjir di masa itu, yakni genangan, banjir bandang, dan banjir rob. Catatan awal hadir pada 1907.Pada 27 September 1907, banjir bandang melanda Kota Padang. Kawasan yang paling terdampak banjir adalah beberapa pasar di Padang, seperti Pasar Gadang, Pasar Mudik, Pasar Batipuh, Pasar Ilir, Pasar Jao, dan Pasar Tanah Kongsi.Di beberapa tempat, ketinggian air mencapai dua setengah meter. Banjir bandang yang terjadi di akhir September itu dipicu badai yang mengakibatkan kerugian sebesar f 200.000 (dua ratus ribu gulden).


(prf/ega)