Wali Kota Solo Minta Pimpinan OPD Awasi ASN yang WFA

2026-02-05 14:44:03
Wali Kota Solo Minta Pimpinan OPD Awasi ASN yang WFA
SOLO, - Wali Kota Solo, Respati Ardi, meminta pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk mengawasi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menerapkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) pada periode akhir tahun 2025.Permintaan tersebut disampaikan Respati seusai memimpin apel bersama penyerahan keputusan pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) di Balai Kota Solo, Jawa Tengah, pada Senin .Baca juga: Kebijakan WFA Picu Peningkatan Penumpang dan Kendaraan di Pelabuhan MerakMenurutnya, ASN yang bertugas di pelayanan publik tetap harus masuk kerja seperti biasa dan tidak diperbolehkan menerapkan WFA."Kami ada di tugas pos masing-masing. Pimpinan-pimpinan tetap melakukan pengecekan pekerjaan yang harus diselesaikan dan petugas pelayanan tetap hadir fisik," kata Respati di Solo, Jawa Tengah, Senin.Baca juga: 200 Pasukan Oranye Bakal Lembur Saat CFN Solo, Volume Sampah Diprediksi Capai 60 TonASN yang menerapkan WFA juga dipantau oleh Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM), selain adanya target pekerjaan yang harus diselesaikan.ASN yang WFA juga diwajibkan melakukan absensi untuk memastikan kehadiran mereka."Dari BKPSDM sudah memantau ada absen dan lain-lain," ujar dia.Plt Kepala BKPSDM Solo, Tulus Widajat, menjelaskan bahwa WFA merupakan kebijakan dari pemerintah pusat yang berlaku pada tiga hari terakhir tahun 2025.Kebijakan ini berlaku mulai Senin hingga Rabu ."Jadi sesuai perintah dari pemerintah pusat untuk ada kesempatan di tiga hari terakhir di tahun baru ini ya kita laksanakan sekitar 50 persen dari kekuatan OPD masing-masing," katanya.Tulus menambahkan bahwa pengawasan ASN yang menerapkan WFA menjadi tanggung jawab masing-masing kepala OPD, karena penugasan tersebut diberikan oleh mereka.Baca juga: Warga Solo Wajib Tahu! Ini Aturan Tegas Nyalakan Petasan di Tahun Baru"Pengawasannya tentu saja jadi tanggung jawab masing-masing kepala OPD. Karena itu penugasan," ujar dia.Kebijakan WFA juga bertujuan untuk mendorong pergerakan perekonomian masyarakat.Namun, Tulus meminta ASN yang menerapkan WFA untuk tetap mengedepankan kedisiplinan."Tetapi prinsip-prinsip kedisiplinan ASN, pegawai tetap bisa dipenuhi (bagi yang melaksanakan WFA)," katanya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-02-05 13:50