DALAM beberapa bulan terakhir, sejumlah industri di Indonesia mulai dari tekstil, elektronik, hingga teknologi digital mengumumkan langkah efisiensi yang berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK).Alasan yang diajukan umumnya sama, untuk menekan biaya, menjaga arus kas, dan meningkatkan produktivitas di tengah tekanan ekonomi global.Namun, pertanyaannya adalah, apakah efisiensi yang dihasilkan lewat PHK benar-benar meningkatkan produktivitas, atau justru menciptakan paradoks baru dalam ekonomi nasional?Fenomena ini menuntut kita untuk melihat hubungan antara efisiensi, produktivitas, dan tenaga kerja secara lebih utuh.Sebab, efisiensi bukan semata-mata soal memangkas, melainkan soal mengoptimalkan dan di sinilah letak tantangan industri Indonesia saat ini.Dalam buku literatur, efisiensi didefinisikan sebagai kemampuan memaksimalkan output dengan penggunaan input yang minimal.Baca juga: Ekonomi Tumbuh 5,04 Persen: Stimulus Jalan, Konsumsi PelanSedangkan produktivitas merupakan ukuran kemampuan menghasilkan output per satuan tenaga kerja, modal, atau faktor produksi lainnya.Dalam praktiknya, efisiensi yang sehat seharusnya menaikkan produktivitas melalui inovasi teknologi, peningkatan kapasitas manusia, dan penyederhanaan proses kerja.Sayangnya, banyak perusahaan di Indonesia menafsirkan efisiensi secara sempit sebagai pengurangan biaya tenaga kerja.PHK menjadi jalan cepat untuk memangkas pengeluaran, tapi tanpa diiringi transformasi proses atau peningkatan nilai tambah.Dalam praktik bisnis di lapangan, efisiensi sering kali dijalankan dalam bentuk restrukturisasi besar-besaran. Di sektor manufaktur padat karya seperti tekstil dan garmen, ratusan perusahaan melakukan PHK massal sepanjang 2024 hingga 2025.Sementara di sektor teknologi, perusahaan rintisan (startup) juga melakukan pengurangan karyawan dengan alasan efisiensi operasional dan penyesuaian pasar.Publikasi artikel hasil penelitian oleh Journal of Regional Industrial Economics (2023), menunjukkan korelasi negatif antara efisiensi industri dan serapan tenaga kerja di 24 subsektor manufaktur Indonesia periode 2012–2020.Ketika efisiensi meningkat tanpa inovasi teknologi dan pelatihan, maka jumlah pekerja turun tanpa peningkatan output, menciptakan apa yang disebut sebagai efisiensi destruktif.Fenomena ini sejalan dengan pandangan ekonom Joseph Schumpeter tentang creative destruction, di mana inovasi menghilangkan metode lama.
(prf/ega)
Efisiensi Perusahaan Bukan dengan Cara PHK
2026-01-12 04:51:27
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:46
| 2026-01-12 04:15
| 2026-01-12 03:21
| 2026-01-12 03:07
| 2026-01-12 03:05










































