Transformasi Digital dan Lini Masa Evolusi Pendidikan

2026-01-12 06:38:53
Transformasi Digital dan Lini Masa Evolusi Pendidikan
TEKNOLOGI digital telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, menghasilkan produk, berkompetisi, dan budaya organisasi.Keunggulan individu dan organisasi akan sangat dipengaruhi oleh sejauh mana dapat mengembangkan, menyerap dan menggunakan teknologi digital.Dengan kata lain, mereka yang menggunakan teknologi berpotensi mendisrupsi yang tidak menggunakannya.Setiap zaman memiliki sejarah teknologinya sendiri. Sebagai contoh pada abad ke-15, Johannes Gutenberg berkontribusi sangat signifikan terhadap proses literasi menggunakan informasi tekstual melalui invensi mesin cetak.UNESCO dalam publikasi “ICHEI attended the 11th ADB International Education and Skills Forum” , mengulas keterkaitan pengembangan SDM dan percepatan teknologi, yang disampaikan pada 11th ADB International Education and Skills Forum di Manila.Forum ini menghadirkan para petinggi pemerintahan, pakar, akademisi dan praktisi. Hal menarik, ketika salah satu sesi menampilkan Lyqa Maravilla, seorang Education Influencer psikometris terkenal, yang akunnya melampaui 200 juta tayangan.Ia membawakan materi “The Future of Education: Learning beyond the Classroom”.UNESCO menyebut kebutuhan talenta teknologi meningkat tajam. Dibutuhkan sistem pelatihan fleksibel, kolaborasi universitas dengan industri, pendanaan berkelanjutan, dan peningkatan kapasitas digital dan AI, bagi guru dan dosen.Membangun talenta lokal, meningkatkan kualitas pembelajaran dan memastikan pendidikan selaras dengan kebutuhan industri dan pasar kerja global adalah kata kunci saat ini.Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi telah mengubah manusia, tetapi apakah manusia mampu meminimalisasi dampak teknologi, karena teknologi telah mengevolusi model pembelajaran.Sejarah menunjukan lini masa lompatan teknologi, dan pengaruhnya bagi manusia seperti uraian berikut ini.Pembelajaran modern dimulai sekitar tahun 1450-an, saat Johannes Gutenberg menemukan teknologi pencetakan teks massal. Temuan inventor asal Jerman itu telah memicu revolusi model pembelajaran, penerbitan buku dan industri media.Para akademisi pun menemukan cara mendiseminasi kepakarannya, sekaligus melahirkan manusia cerdas lainnya. Di era inilah ide pelindungan hak cipta mulai bergulir.UU Hak Cipta pertama di dunia yang lahir kemudian adalah Statuta Anne, yang diberlakukan di Inggris pada tahun 1710. Regulasi yang memperkenalkan bahwa penulis suatu karya adalah pemilik hak ciptanya, sekaligus menetapkan jangka waktu pelindungannya.Berabad-abad paradigma mesin cetak sukses menghasilkan Individu cerdas dan brilian melalui naskah tekstual seperti text book dan media cetak. Buku-buku pintar ini pun menjadi barang mewah.Model ini mulai goyah saat teknologi digital secara radikal mengubahnya. Sumber referensi ilmu pengetahuan, sains dan teknologi kini bisa diakses secara digital tak terikat ruang dan waktu, bahkan lintas negara.Keunggulan individu pun kemudian sangat dipengaruhi sejauh mana terampil dan fasih menggunakan komputer.Banyak perusahaaan kemudian mensyaratkan ketrampilan ini dalam merekrut karyawan barunya. Di bidang pendidikan, text book menjadi e-book, dan jurnal bereputasi juga beralih ke penerbitan online.Teknologi digital juga terus memberi kemudahan bagi konsumennya, saat ditemukannya mesin pencari (search engine) yang efektif menemukan informasi online dari jutaan situs.


(prf/ega)