Karakter Gary De'Snake di Film Zootopia 2 Terinspirasi dari Ular Asal Indonesia

2026-02-05 05:48:50
Karakter Gary De'Snake di Film Zootopia 2 Terinspirasi dari Ular Asal Indonesia
Doc. Disney Fandom Karakter Gary De'Snake di Film Zootopia 2 Terinspirasi dari Ular Asal Indonesia - Film Walt Disney Animation Studios, Zootopia 2 tengah tayang di bioskop Indonesia sejak 26 November 2025.Ada yang menarik dari sekuel petualangan seru tokoh Judy Hopps dan Nick Wilde, sang kelinci dan rubah yang berprofesi sebagai polisi Zootopia ini, yakni kemunculan seekor ular misterius Gary De'Snake.Sutradara Zootopia 2, Jared Bush mengaku, sejak awal dirinya ingin memperkenalkan berbagai karakter baru di film Zootopia 2.Beberapa di antaranya adalah hewan semi-akuatik, seperti mamalia laut dan reptil."It's the most fun thing in the world, you know, bringing new animals into this movie. (Hal yang paling menyenangkan di dunia, seperti memasukkan hewan-hewan baru ke dalam film ini)," kata Bush, dalam sebuah wawancara bersama Penyanyi Indonesia Lyodra Ginting dan aktor, Randy Martin.Salah satunya adalah tokoh Gary De'Snake yang digambarkan sebagai ular misterius.Dikutip dari Disney Fandom, banyak yang berpendapat bahwa Gary De'Snake adalah karakter ular yang terinspirasi dari endemik Indonesia.Warnanya tubuhnya yang unik dan berwarna kebiruan diidentikkan dengan ular beludak Pulau Sunda atau Sunda Island Pit Viper.Lantas, seperti apa ular beludak Pulau Sunda?Baca juga: Plafon Toilet Runtuh, Guru Temukan Ular Sanca 60 Kg yang Awalnya Disangka Kain BatikUlar Sunda Island Pit Viper memiliki nama ilmiah Trimeresurus insularis dan termasuk ular berbisa.Spesies ini banyak ditemukan di seluruh Asia Tenggara, terutama wilayah Indonesia yang menjadi habitat White Lipped Pit Viper (Trimeresurus albolabris) yang merupakan kerabat dekatnya.Dikutip dari Chester Zoo, ular Sunda Island Pit Viper memiliki panjang rata-rata 80 sentimeter (cm).Ukuran ular betina akan lebih besar dibandingkan ular jantan yang hanya 60 cm.Meski ukurannya kecil, reptil ini merupakan predator yang agresif dan memiliki kecenderungan untuk menyerang daripada lari.Ular Sunda Island Pit Viper memiliki bentuk kepala segitiga yang merupakan ciri khas ular Viper. Ekornya berwarna jingga atau merah bata.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-02-05 03:14