Burung Baru di Amazon Ini Terlalu Jinak, Nasibnya Bisa Seperti Dodo

2026-01-11 03:50:13
Burung Baru di Amazon Ini Terlalu Jinak, Nasibnya Bisa Seperti Dodo
Di pedalaman hutan hujan Amazon, sebuah nyanyian aneh yang menggema dari balik pepohonan akhirnya mengungkapkan penemuan besar: seekor burung jenis baru yang belum pernah diidentifikasi selama lebih dari 75 tahun. Spesies tersebut dinamai slaty-masked tinamou atau Tinamus resonans, dan kemunculannya justru menimbulkan kecemasan di kalangan ilmuwan. Pasalnya, beberapa sifatnya mengingatkan mereka pada burung yang kini menjadi simbol kepunahan: dodo.Pada tahun 2021, ketika menjelajahi kawasan pegunungan terpencil di Serra do Divisor, Brasil, para peneliti merekam kicauan yang berbeda dari semua spesies tinamou yang diketahui. Suaranya bergema dan sulit dilacak.Para ilmuwan menyebut fenomena akustik ini sebagai sesuatu yang “menciptakan persepsi jarak dan arah yang membingungkan” karena vokalisasinya tersebar dalam lapisan bawah hutan yang rapat. Selama beberapa tahun, mereka terus mendengar nyanyian hantu itu, tetapi medan yang curam dan vegetasi yang sangat lebat selalu menggagalkan pencarian visual mereka.Baru pada November 2024, rekaman suara hasil sintetis digital berhasil memancing dua individu keluar, memperlihatkan sosok burung yang selama ini bersembunyi.Baca juga: Bagaimana Burung Dodo Bisa Punah?Luis A. Morais Foto individu Tinamus baru yang dideskripsikan dalam penelitian ini di Morro Queimado, Taman Nasional Serra do Divisor, Mâncio Lima, Acre, Brasil, oleh Luis A. Morais. Secara fisik, burung ini seukuran ayam dengan tubuh membulat, leher ramping, mata besar, dan topeng wajah berwarna abu-gelap yang menjadi ciri khasnya. Bagian bawah tubuhnya bercorak kayu manis, indah namun sederhana. Seperti kerabat tinamou lainnya, ia tidak pandai terbang dan lebih sering berjalan perlahan di lantai hutan.Namun sifatnya yang paling mengejutkan para ilmuwan adalah ketidaktakutannya terhadap manusia.Dalam laporan penelitian, para penulis menegaskan: “Ketika berhadapan langsung, individu tidak menunjukkan perilaku menghindar dan tampak sangat jinak, seolah tidak mengenali manusia sebagai predator potensial.”Mereka bahkan beberapa kali terlihat menyeberang area terbuka tanpa kewaspadaan, perilaku yang sangat berbeda dari tinamou lain yang umumnya waspada dan mudah panik.Baca juga: Fakta Dodo, Kerabat Jauh Merpati yang Sudah PunahDari sinilah muncul kekhawatiran baru. Para ilmuwan menilai bahwa perilaku Tinamus resonans —tidak takut manusia, hidup di tanah, dan kurang gesit— sangat mirip dengan dodo (Raphus cucullatus), burung besar Mauritius yang punah pada abad ke-17 setelah datangnya manusia dan predator yang dibawa penjajah.“Perilaku burung ini mencerminkan catatan sejarah tentang dodo yang punah, dan risiko kepunahannya sama nyatanya,” kata Luis Morais, kandidat doktor zoologi di Museu Nacional Rio de Janeiro, seperti dikutip The New York Times.Hasil penelitian menunjukkan bahwa slaty-masked tinamou hanya ditemukan pada zona ketinggian sempit antara 310–435 meter di lereng curam hutan transisi submontana. Di sana, lantai hutannya unik: dipenuhi jaringan akar halus dan serasah daun yang rapat, di atas tanah batuan kuarsit yang miskin nutrisi.Jumlah populasinya diperkirakan hanya sekitar 2.106 individu, berdasarkan pemodelan spasial dan analisis habitat. Selama penelitian, tim hanya bisa mengamati 15 individu secara langsung—dan seluruh spesimen yang berhasil dikoleksi adalah betina.Para peneliti menduga, ini bukan berarti jantan tidak ada, melainkan karena betina pada spesies Tinamus sering menjadi pihak yang lebih agresif dalam mempertahankan teritori—sehingga lebih mudah tertarik oleh suara pancingan playback.Baca juga: Lama Jadi Teka-teki, Kehidupan Burung Dodo Mulai TerkuakLuis A. Morais Foto individu Tinamus baru yang dideskripsikan dalam penelitian ini di Morro Queimado, Taman Nasional Serra do Divisor, Mâncio Lima, Acre, Brasil, oleh Luis A. Morais. Saat ini, Tinamus resonans hidup dalam kawasan Taman Nasional Serra do Divisor (SDNP). Namun status ini terancam berubah. Ada rencana untuk menurunkan status perlindungan menjadi sekadar Environmental Protection Area, yang justru memberikan ruang lebih besar bagi aktivitas manusia—mulai dari pembangunan jalan, jalur kereta, hingga pertambangan.Dengan populasi kecil, habitat terbatas, dan sifat jinak tanpa rasa takut, para ilmuwan menilai burung ini berada di jalur berbahaya menuju risiko kepunahan.Sebagaimana dodo dahulu tak mampu mengenali ancaman manusia, Tinamus resonans pun menunjukkan pola yang sama.Para peneliti menyerukan konservasi ketat, bukan hanya untuk melindungi burung ini, tetapi juga seluruh ekosistem Serra do Divisor yang kaya spesies unik.Mereka menekankan bahwa pengembangan ekowisata berkelanjutan dapat menjadi alternatif yang menguntungkan, baik dalam menjaga keutuhan hutan maupun memberikan pendapatan bagi masyarakat lokal.Burung baru ini—yang namanya berasal dari kata Latin resonare atau “bergema”—mengingatkan kita bahwa alam masih menyimpan banyak misteri. Namun tanpa tindakan cepat, gema suaranya di hutan Amazon mungkin akan menjadi gema terakhir dari sebuah spesies yang terlambat kita kenali.Baca juga: Mengapa Kita Makan Ayam, Bukan Burung seperti Camar atau Angsa?


(prf/ega)