70 Persen Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Ternyata Enggan Melapor Karena Takut Stigma

2026-02-04 23:35:04
70 Persen Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Ternyata Enggan Melapor Karena Takut Stigma
Jakarta - Sebanyak 70 persen korban kekerasan terhadap perempuan dan anak enggan melapor karena takut akan stigma berdasarkan survei nasional 2025. Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Publik Chico Hakim mengungkapkan langkah pencegahan harus dimulai dari keluarga, yakni dengan melakukan edukasi dini.“Kami terus tingkatkan akses dan mengurangi stigma, karena Jakarta yang bahagia itu bukan cuma slogan, tapi juga ketika setiap warganya merasa didengar dan didukung,” kata Chico di Jakarta, Selasa .Dia menjelaskan sebagai upaya menekan kasus kekerasan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah melakukan beberapa langkah, salah satunya dengan menyediakan layanan Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA) yang beroperasi 24 jam dan telah menangani 1.698 korban hingga Oktober 2025.AdvertisementSelain itu, ada pula kampanye 16 Hari Anti Kekerasan yang digelar di seluruh kelurahan untuk mendorong warga agar berani dan tidak ragu melapor melalui pusat telepon (call center) 112 atau aplikasi JakLingko.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Sekali lagi melihatnya sekali mungkin tidak menjadi tantangan, tetapi melihatnya berkali-kali bisa mendistorsi pandangan anak tentang body image mereka sendiri, ujar Graham.Ada beberapa konten yang dibatasi oleh YouTube untuk dikonsumsi pra-remaja dan remaja secara berulang, salah satunya konten dengan topik yang membahas tentang perbandingan ciri fisik seseorang.Kemudian topik yang mengidealkan beberapa tipe fisik, mengidealkan tingkat kebugaran atau berat badan tertentu, serta menampilkan agresi sosial seperti perkelahian tanpa kontak dan intimidasi.Selanjutnya adalah topik yang menggambarkan remaja sebagai sosok yang kejam dan jahat, atau mendorong remaja untuk mengejek orang lain,menggambarkan kenakalan atau perilaku negatif, dan nasihat keuangan yang tidak realistis atau buruk.Inilah mengapa YouTube bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli, dalam hal ini Kemenkomdigi RI, psikolog, dan psikiater.Mereka adalah para panutan yang telah benar-benar mendorong kemajuan tentang bagaimana kita bisa meningkatkan informasi seputar kesehatan mental, ucap Graham.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Tampilan fitur Teen Mental Health Shelf di YouTube.Berkaitan dengan kolaborasi tersebut, Graham mengumumkan bahwa pihaknya meluncurkan fitur Teen Mental Health Shelf, yang dirancang khusus untuk membantu menjaga kesehatan mental remaja.Baca juga: Ribuan Iklan Rokok Serbu Youtube, Ruang Anak TerancamIni untuk para remaja di Indonesia yang akan menggunakan platform kami untuk mencari topik-topik sensitif seperti depresi, kecemasan, atau perundungan, jelas Graham.

| 2026-02-04 22:55