Potret Perjuangan Guru di Ujung Timur Flores, Mengajar di Kelas Berlumpur, Bocor, dan Tanpa Sinyal

2026-01-15 03:54:54
Potret Perjuangan Guru di Ujung Timur Flores, Mengajar di Kelas Berlumpur, Bocor, dan Tanpa Sinyal
BORONG, – Di lereng bukit Desa Gunung, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, berdiri sebuah sekolah dasar yang hampir tak layak disebut bangunan.Lantainya tanah liat keras, dindingnya adalah susunan batang bambu yang sudah lapuk berlubang-lubang, atap sengnya bocor di puluhan titik.Saat hujan turun, air mengalir masuk, lantai berubah jadi lumpur. Meski begitu, anak-anak kelas I dan II tetap belajar tanpa alas kaki.Di tengah kondisi itu, dua perempuan bernama Mersiana Maghong yang biasa disapa Ibu Mersi, dan Maria Triastuti alias Ibu Asti, sudah 10 tahun mengajar dengan penuh cinta.Baca juga: Pelajaran Hidup Sriati, 31 Tahun Mengabdi sebagai Guru SLB di Surabaya“Anak-anak ini datang dari keluarga petani. Mereka belum terbiasa duduk diam di bangku.""Mereka main debu, masuk-keluar lewat lubang dinding, kadang balok atap lapuk bergoyang di atas kepala kami,” kata Ibu Mersi sambil tersenyum, kala ditemui Kamis .Tahun ini, Ibu Mersi mengajar kelas I yang terdiri dari sembilan murid, sedangkan Ibu Asti mengajar kelas II yang terdiri dari 20 murid.KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Ibu Mersi, Guru Kelas 1 SDN Waekikong, Desa Gunung, Kec. Kota Komba, Kab. Manggarai Timur, NTT sedang menjelaskan materi pelajaran matematika, Kamis, . (/Markus Makur)Sekat antara kedua kelas sudah bolong, sehingga suara mengajar satu sama lain saling terdengar.“Kalau hujan deras, kami harus waspada. Takut balok atap jatuh. Lantai licin berlumpur, anak-anak tidak pakai sepatu karena sepatunya malah rusak kena lumpur setiap hari,” tambah Ibu Asti.Baca juga: Kisah Abdul Azis Mengajar di Wilayah Sulit Internet, Ubah Sampah Plastik Jadi AdiwiyataMeski begitu, keduanya tetap bersemangat. “Saya senang sekali melihat anak-anak mulai bisa membaca kalimat pertama mereka. Matanya berbinar-binar. Itu yang membuat saya bertahan,” kata Ibu Mersi.Ibu Asti menimpali, “Murid semangat belajar, saya jadi tambah semangat mengajar. Gedung boleh reyot, tapi mimpi anak-anak ini tidak boleh reyot.”KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Gedung SDN Waekikong di Desa Gunung, Kec. Kpta Komba, Kab. Manggarai Timur, NTT yang reyot berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah, Kamis, . (,/Markus Makur)Di momen Hari Guru Nasional, kedua guru ini hanya punya satu permintaan sederhana.“Berilah kami hadiah berupa dua ruang kelas yang layak dan aman. Bukan untuk kami, tapi untuk anak-anak ini. Fondasi bangsa yang kuat dimulai dari kelas I dan II,” ujar mereka hampir bersamaan.Kepala SDN Waekikong, Ferdinandus Jalang, membenarkan kondisi sekolahnya.“Sekolah kami mulai dari Tambah Ruang Kelas (TRK) tahun 2011, baru definitif jadi SDN Waekikong tahun 2015."Baca juga: Kisah Yesi, Guru SD di Wilayah 3T Baturotok Sumbawa Melawan Sulitnya Akses Infrastruktur demi Pendidikan Bermakna


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-15 03:11