Obligasi SMF Resmi Masuk Fasilitas Repo BI, Dorong Pembiayaan Perumahan

2026-01-14 09:35:04
Obligasi SMF Resmi Masuk Fasilitas Repo BI, Dorong Pembiayaan Perumahan
JAKARTA, - Bank Indonesia (BI) memperluas akses operasi repo dengan menggunakan obligasi korporasi sektor perumahan yang diterbitkan PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) sebagai instrumen dasar. Langkah ini menjadi perluasan instrumen likuiditas sekaligus upaya memperdalam pasar pembiayaan perumahan.Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, perluasan instrumen repo ini merupakan bagian dari agenda penguatan pasar keuangan, terutama dalam menyediakan opsi likuiditas yang lebih beragam bagi perbankan.Destry menyebutkan hasil lelang repo menggunakan obligasi SMF mencapai Rp 290 miliar pada transaksi 10 November 2025, dengan rate pemenang 4,85 persen untuk tenor satu minggu. Ini menjadi transaksi perdana repo korporasi yang diterima BI sebagai underlying.“Sudah masuk Rp 290 miliar. Walaupun outstanding SMF sekitar Rp 25 triliun, tapi kami memiliki syarat. Misalnya, dalam 30 hari terakhir obligasi tersebut harus aktif diperdagangkan,” ujar Destry dalam acara Pengenalan Surat Utang SMF sebagai Underlying Transaksi repo Bank Indonesia di Gedung AA Maramis, Jakarta, Kamis .Baca juga: Tower Bersama (TBIG) Rilis Obligasi dan Sukuk Ijarah, Incar Dana hingga Rp 2,2 TriliunMeski nilai outstanding obligasi SMF cukup besar, Destry menegaskan tidak seluruhnya memenuhi syarat untuk dapat direpokan ke BI. Aktivitas perdagangan menjadi salah satu kriteria utama selain kualitas aset yang harus terjaga.BI berharap penerimaan obligasi SMF sebagai underlying repo dapat memperluas instrumen pasar uang, mengurangi ketergantungan pada SBN, serta mendorong penggunaan aset berkualitas yang selama ini belum banyak terserap dalam operasi moneter.Sejauh ini, sudah ada sembilan bank yang memanfaatkan fasilitas repo SMF dengan BI. Destry menambahkan, rate repo untuk obligasi SMF berada di bawah special rate bank, sehingga memberikan insentif bagi perbankan karena dapat menurunkan biaya dana.Baca juga: Masih Menarik, Obligasi Jangka Pendek Lebih Diminati InvestorFasilitas repo BI untuk obligasi SMF dinilai turut mendukung sektor perumahan. Dengan biaya pendanaan yang lebih murah dan likuiditas yang meningkat, bank memiliki ruang lebih besar untuk menyalurkan kredit pemilikan rumah (KPR) dengan biaya yang lebih efisien.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-14 08:45