Fetriza Rinaldy (INA): Menjaga Nyawa Investasi Negara lewat ESG

2026-01-12 07:19:56
Fetriza Rinaldy (INA): Menjaga Nyawa Investasi Negara lewat ESG
JAKARTA, - Siapa sangka latar belakang biologi justru menjadi salah satu kunci dalam menjaga kualitas investasi negara. Fetriza Rinaldy, Vice President of Sustainability di Indonesia Investment Authority (INA), membuktikan bahwa ilmu lingkungan dapat berperan strategis dalam dunia keuangan, terutama untuk memastikan investasi tetap menguntungkan tanpa merusak alam. Berangkat dari pendidikan Biologi Lingkungan di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan gelar Magister (S2) dari Technische Universität München, Jerman, Fetriza membawa sudut pandang yang berbeda ke dalam lembaga pengelola investasi negara. Baginya, ekosistem alam dan ekosistem investasi memiliki kesamaan mendasar: keduanya sama-sama rapuh jika dikelola secara serampangan. Kerusakan satu unsur dapat memicu efek berantai yang pada akhirnya merugikan keseluruhan sistem. Baca juga: Bye-bye Impor! Indonesia Bangun Pabrik Plasma Darah Terbesar di ASEAN Pengalaman lebih dari 14 tahun di bidang keberlanjutan dan ESG mengasah kepekaannya terhadap risiko jangka panjang. Ia menilai bahwa banyak risiko finansial berakar dari persoalan lingkungan dan sosial yang diabaikan sejak awal. Karena itu, di INA, prinsip ESG tidak ditempatkan sebagai pelengkap, melainkan sebagai bagian dari mandat utama lembaga. Dalam praktiknya, Fetriza berperan penting dalam meletakkan fondasi pengembangan dan implementasi kerangka kerja ESG untuk Sovereign Wealth Fund (SWF) pertama Indonesia. Setiap keputusan investasi, menurutnya, harus melalui proses uji tuntas yang mempertimbangkan dampak lingkungan, sosial, dan tata kelola. Proses tersebut berlanjut hingga tahap pemantauan portofolio, untuk memastikan risiko-risiko non finansial tetap terkendali sepanjang masa investasi.Baca juga: Bukan Sekadar Modal, Investasi INA di Tol Tekan Pelanggaran 40 Persen Dalam program Naratama Kompas.com: "Pintu Investasi Indonesia di Pundak INA", yang dipandu langsung Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin, Fetriza menegaskan penerapan ESG di INA bukan sekadar inisiatif tambahan atau respons terhadap tren global. Lembaga investasi milik negara itu meletakan ESG sebagai bagian yang penting dari mandat utama INA. Prinsip ini menempatkan kehati-hatian sebagai fondasi utama dalam setiap pengambilan keputusan investasi, sehingga tidak ada ruang bagi langkah yang bersifat spekulatif atau “ugal-ugalan”. “Di internal INA, ESG adalah bagian dari mandat. Pengambilan keputusan tidak boleh "ugal-ugalan",” ujar Fetriza. Aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola dipandang memiliki risiko material yang nyata dan dapat berdampak langsung terhadap kinerja investasi apabila diabaikan. “Ketiga aspek itu punya risiko material. Jadi, dari mulai due diligence (uji tuntas) hingga monitoring portofolio, aspek ESG selalu kami integrasikan,” paparnya.Baca juga: Laporan LPEM UI: Investasi INA Ubah Infrastruktur Jadi Nilai Ekonomi dan SosialINA saat ini mengelola aset lebih dari 10 miliar dollar AS. Dalam skala sebesar itu, konsistensi penerapan ESG menjadi krusial. Menurutnya, pendekatan disiplin dan transparan inilah yang menarik minat mitra global.Investor internasional semakin menyadari investasi dengan tata kelola yang baik dan perhatian pada keberlanjutan cenderung memberikan imbal hasil yang lebih stabil dalam jangka panjang. “Menariknya, bagi mitra global, konsistensi kami dalam tata kelola dan transparansi justru menjadi daya tarik utama. Mereka melihat bahwa investasi dengan tata kelola yang baik akan menghasilkan imbal hasil yang lebih stabil dalam jangka panjang,” lanjut Fetriza. Melalui perannya di INA, Fetriza berupaya menerjemahkan visi keberlanjutan ke dalam strategi yang konkret dan terukur.Ilmu biologi yang dulu mempelajari relasi manusia dengan alam kini ia aplikasikan untuk menjaga “nyawa” investasi negara.Baca juga: Total Investasi INA Rp 65,4 Triliun hingga Mei 2025


(prf/ega)