Rel Cepat Menuju Ketergantungan

2026-01-12 17:20:12
Rel Cepat Menuju Ketergantungan
PAGI itu, dari jendela kereta cepat Whoosh, pemandangan hijau Jawa Barat berkelebat secepat kilat. Dalam 40 menit, Jakarta dan Bandung terasa seperti dua halte dalam satu kota besar.Di atas kertas, ini adalah lompatan peradaban. Namun, di balik kecepatan yang mengagumkan itu, terselip sesuatu yang berjalan jauh lebih lambat: kesadaran geopolitik kita.Pasalnya, proyek ini bukan sekadar urusan moda transportasi. Ia adalah bagian dari strategi global China yang bernama The Belt and Road Initiative (BRI).Sayangnya, banyak pejabat kita tampak belum sepenuhnya memahami bahwa setiap kilometer rel yang dibangun membawa konsekuensi politik, ekonomi, dan kedaulatan yang panjang.Sejak diumumkan Xi Jinping pada 2013, The Belt and Road Initiative (BRI) digadang-gadang sebagai proyek abad ini.Visinya sederhana, tapi ambisius, yaitu menghubungkan Asia, Eropa, dan Afrika melalui jaringan infrastruktur — pelabuhan, jalur kereta, pipa gas, hingga kabel serat optik — dalam satu sabuk ekonomi global yang berpusat pada China.Baca juga: Mengapa Rakyat Harus Menanggung Utang Whoosh?Bagi Beijing, ini bukan sekadar investasi. Ini adalah strategi geopolitik untuk menghidupkan kembali kejayaan “Sinosentrisme”, di mana dunia ekonomi berputar di orbit China.BRI adalah cara baru China untuk mengendalikan dunia, bukan lewat kekuatan militer, melainkan lewat utang dan konektivitas.Bukan hanya Indonesia yang terpikat pada janji pembangunan cepat. Sri Lanka pernah memimpikan hal serupa lewat proyek pelabuhan Hambantota, dibiayai oleh pinjaman China.Namun, karena gagal membayar, pelabuhan itu kini disewakan ke China selama 99 tahun — simbol modern dari kehilangan kedaulatan ekonomi.Pakistan pun menghadapi dilema serupa lewat China-Pakistan Economic Corridor (CPEC). Proyek infrastruktur raksasa itu awalnya diharapkan memacu pertumbuhan, tapi kini membebani kas negara dengan utang miliaran dolar.Di Afrika, Zambia dan Djibouti juga terperangkap dalam utang BRI — menimbulkan istilah yang kini populer di kalangan analis internasional: “debt-trap diplomacy.”Dan kini, giliran Indonesia?Ketika proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) disetujui pada 2015, banyak yang menyambutnya dengan euforia.Namun, di balik semangat “modernisasi transportasi”, terdapat konsekuensi finansial yang besar.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Hingga kini, tolok ukur tersebut baru mampu dicapai Ducati, yang mendominasi klasemen konstruktor dengan enam gelar juara beruntun.Honda tercatat sebagai pabrikan pertama yang naik level dalam sistem konsesi sejak skema A-B-C-D diberlakukan pada awal 2024.Honda berhasil melampaui ambang batas 35 persen poin, sehingga berhak bergabung dengan KTM dan Aprilia di kategori C.Baca juga: Cara Mengecas Motor Listrik yang Bikin Baterai AwetDengan perubahan itu, Yamaha kini menjadi satu-satunya pabrikan yang masih berada di kategori D.Dok. HRC Aleix Espargaro menjadi pebalap tes untuk Honda Racing Corporation (HRC)Kondisi tersebut membuat Yamaha tetap menikmati konsesi penuh, termasuk kebebasan pengembangan mesin serta tes privat bersama pebalap utama.“Ini soal di mana kami harus berada, kami harus ada di A. Jadi ini adalah langkah pertama yang logis yang harus kami lakukan,” kata Espargaro, dikutip dari Crash, Selasa .Kenaikan peringkat Honda tidak lepas dari performa solid pada akhir musim 2025.Pada seri penutup musim, Luca Marini finis di posisi ketujuh, hasil krusial yang dibutuhkan Honda untuk melampaui ambang batas poin konsesi.Baca juga: Persiapan Touring Libur Nataru: Ini Item yang Harus Dibawa BikerSelain Marini, performa positif juga ditunjukkan Joan Mir yang meraih beberapa podium, serta Johann Zarco yang berhasil memenangi satu balapan.AFP/LOIC VENANCE Pebalap LCR Honda, Johann Zarco, memacu motornya selama sesi latihan bebas di MotoGP Perancis 2025 di Sirkuit Le Mans pada 10 Mei 2025.Zarco pun menutup musim sebagai pebalap Honda terbaik di klasemen dunia, finis di posisi ke-12, unggul enam poin dari Marini.Espargaro turut menyoroti intensitas program pengujian yang dijalani Honda sepanjang musim. “Sungguh luar biasa seberapa banyak kami bekerja. Saya menjalani tes di Malaysia, lalu kembali ke Eropa, kemudian ke Aragon sebelum tampil wild card di Valencia. Ini menunjukkan besarnya komitmen Honda,” ujarnya.Terkait minimnya konsesi yang dimiliki Ducati, Espargaro membandingkannya dengan perkembangan motor Honda selama musim berjalan. “Dengan segunung material dan ratusan lap pengujian, perubahan motor dalam enam bulan terakhir sungguh luar biasa,” katanya. “Honda membawa banyak pembaruan untuk Joan dan Luca. Misalnya, kami memiliki tiga pembaruan mesin selama musim berjalan, dan mesin yang digunakan sekarang sangat cepat,” ucap Espargaro.Mulai seri pembuka MotoGP 2026, Honda akan bergabung dengan Ducati, KTM, dan Aprilia dalam aturan pembekuan mesin.Sementara itu, era baru MotoGP dengan mesin 850 cc dijadwalkan resmi dimulai pada 2027.

| 2026-01-12 16:44