6 WNI Ditangkap Saat Masuki Singapura secara Ilegal, Hendak Cari Kerja Tanpa Izin

2026-01-14 23:04:53
6 WNI Ditangkap Saat Masuki Singapura secara Ilegal, Hendak Cari Kerja Tanpa Izin
SINGAPURA, - Enam Warga Negara Indonesia (WNI) ditangkap aparat Singapura karena diduga masuk ke wilayah negara tersebut secara ilegal melalui jalur laut.Penangkapan dilakukan pada Minggu dini hari, di perairan sekitar Tanah Merah yang termasuk wilayah teritorial Singapura.Polisi menyebut keenam pria itu berusia antara 23 hingga 29 tahun. Mereka diduga berniat masuk Singapura untuk mencari pekerjaan tanpa izin resmi.Baca juga: Singapura Tangkap Antek-antek Dalang Kerajaan Scam Besar KambojaDalam keterangan resmi, Kepolisian Singapura menjelaskan bahwa Polisi Penjaga Pantai (Police Coast Guard/PCG) mendeteksi sebuah perahu kayu yang membawa enam orang pria sekitar pukul 00.35 waktu setempat.Saat itu, perahu tersebut berada di laut lepas Tanah Merah, masih dalam wilayah perairan teritorial Singapura.Petugas PCG kemudian mencegat perahu tersebut dan langsung menangkap keenam WNI itu atas dugaan masuk Singapura secara tidak sah.Penangkapan dilakukan berdasarkan Undang-Undang Imigrasi Singapura (Immigration Act 1959).Baca juga: Kalah dari Singapura, Pebasket Filipina Tolak Bersalaman dengan Sesama Atlet SEA GamesHasil penyelidikan awal mengungkap bahwa keenam warga negara Indonesia tersebut memang berniat memasuki Singapura secara ilegal menggunakan jalur laut. Tujuan mereka, menurut polisi, adalah untuk mencari pekerjaan di Singapura.“Penyelidikan awal menunjukkan bahwa para pria tersebut bermaksud masuk ke Singapura secara ilegal melalui perahu untuk mencari pekerjaan,” demikian keterangan kepolisian Singapura./KRISTIANTO PURNOMO Ilustrasi narapidana.Keenam pria itu dijadwalkan didakwa di pengadilan pada Senin , atas pelanggaran masuk Singapura secara ilegal.Jika terbukti bersalah, masing-masing dapat dijatuhi hukuman penjara hingga enam bulan serta hukuman cambuk minimal tiga kali.Hukuman tersebut diatur dalam Undang-Undang Imigrasi Singapura, yang dikenal memiliki sanksi tegas terhadap pelanggaran keimigrasian.Baca juga: Kalah dari Singapura, Pebasket Filipina Tolak Bersalaman dengan Sesama Atlet SEA Games


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-14 22:17