Kaltim Ekspor Damar Batu ke Sri Lanka, Nilai Capai 26 Ribu Dollar AS

2026-01-11 14:45:23
Kaltim Ekspor Damar Batu ke Sri Lanka, Nilai Capai 26 Ribu Dollar AS
BALIKPAPAN, — Kalimantan Timur (Kaltim) mengekspor damar batu perdana ke Sri Lanka sebanyak 28 ton. Hasil dari komoditas ini mencapai 26 ribu Dollar AS.Ekspor ke Sri Lanka dilakukan melalui Pelabuhan Kaltim Kariangau Terminal (KKT), Balikpapan pada Kamis .Kepala Export Center Balikpapan, Abdullah Umar Bahar, mengatakan permintaan damar batu di negara-negara Asia Selatan terus meningkat.“Permintaan batu ini cukup banyak diminati, malah kekurangan. Selama ini banyak dipasok dari daerah lain. Dari Kaltim, ini pertama kali ke Sri Lanka,” ujarnya.Sebelumnya, damar batu asal Kaltim telah dikirim ke Bangladesh dan India, di mana ekspor perdana dilakukan pada 2021 oleh PT Shifa Naghari Indonesia.Baca juga: Di Tengah Penurunan Ekspor, Kaltim Kirim Perdana 28 Ton Damar Batu ke Sri LankaPengiriman kali ini juga dilakukan oleh PT Shifa Naghari Indonesia melalui kontrak kerja sama selama tiga tahun.Volume pengiriman akan mengikuti ketersediaan bahan baku di daerah.“Kalau memungkinkan setiap bulan, mereka berharap pengirimannya bisa rutin karena memang sangat dibutuhkan. Kami mendorong agar Balikpapan bisa mengirim setiap bulan,” kata Abdullah.Bahan baku damar batu dikumpulkan dari berbagai wilayah Kaltim, mulai Berau, Malinau, hingga Sepaku (PPU).Damar batu sendiri berasal dari getah pohon meranti. Di Sri Lanka, komoditas ini digunakan untuk bahan baku cat, pernis, pelitur, dan semir sepatu.Baca juga: Prabowo Minta Tambang Ilegal Ditindak, JATAM Kaltim : Tangkap Dalang Utama! Sementara di Bangladesh, damar batu dimanfaatkan sebagai campuran produk pengharum karena aromanya yang menyerupai kemenyan saat dibakar.Abdullah menambahkan PT Shifa Naghari Indonesia selama ini fokus pada komoditas hasil hutan bukan kayu, termasuk produk turunan kelapa dan hasil pertanian lainnya.Selain damar batu, Kaltim juga memiliki komoditas unggulan seperti lada Malonan, meski harganya kurang kompetitif akibat persaingan dengan Vietnam serta tingginya biaya logistik.Abdullah menjelaskan Export Center rutin menggelar business pitching, pendampingan regulasi negara tujuan, hingga membantu UMKM menyiapkan dokumen ekspor.Salah satu hasil terbaru adalah fasilitasi ekspor cocopeat (sabut kelapa) dari PPU yang terhubung dengan KDEI (Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia) di Taiwan hingga terjadi kontrak pembelian di Trade Expo Indonesia 2025.Namun, berbagai hambatan masih memperlambat ekspor produk lokal, terutama sektor makanan yang membutuhkan standar keamanan seperti HACCP dan izin BPOM.Baca juga: UKM Dampingan Kemendag Berhasil Ekspor Damar Batu dan Lidi Sawit ke India dan Pakistan“Di Penajam dan beberapa daerah lain hampir tidak ada produk yang punya izin BPOM, umumnya hanya PIRT, karena pasarnya lokal. Padahal sebenarnya persyaratan ekspor mudah saja, cukup punya NPWP dan NIB,” ujarnya.Untuk damar batu, tantangan terbesar adalah minimnya informasi di tingkat daerah terkait nilai ekonominya.“Banyak yang menemukan damar batu, tapi mereka tidak tahu apakah ada harganya atau tidak. Perlu sosialisasi produk ini,” kata Abdullah.


(prf/ega)