Mengenang Jatuhnya Air Asia QZ8501 Tahun 2014, Hilang Kontak dan 162 Orang Tewas

2026-02-01 21:34:57
Mengenang Jatuhnya Air Asia QZ8501 Tahun 2014, Hilang Kontak dan 162 Orang Tewas
- Minggu pagi, 28 Desember 2014 di Bandara Juanda Surabaya, pesawat Air Asia QZ8501 rute Surabaya-Singapura lepas landas seperti biasa.Tapi, tak ada yang menyangka, penerbangan rutin berdurasi singkat tersebut akan menjadi salah satu catatan paling kelam dalam sejarah penerbangan komersial Indonesia.Membawa 162 nyawa, terdiri dari 155 penumpang dan 7 awak kabin, pesawat Airbus A320-200 dengan registrasi PK-AXC itu tak pernah menyentuh landasan Bandara Changi.Berikut adalah rekam jejak kronologis, operasi pencarian, hingga hasil investigasi resmi mengenai apa yang sebenarnya terjadi di atas Selat Karimata.Baca juga: 28 Desember 2014, Air Asia QZ8501 Hilang dan Jatuh di Selat KarimataBerdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan otoritas navigasi udara, pesawat lepas landas dari Surabaya pada pukul 05.35 WIB.Pesawat dikendalikan oleh Kapten Iriyanto, seorang pilot senior dengan ribuan jam terbang, didampingi oleh Kopilot (First Officer) Remi Emmanuel Plesel.Otoritas penerbangan Singapura melalui Civil Aviation Authority of Singapore (CAAS) menyatakan pesawat QZ8501 dijadwalkan tiba di Singapura sekitar pukul 08.30 waktu setempat atau 07.30 WIB.Namun pesawat hilang kontak dengan pengatur lalu lintas udara Jakarta pada 06.24 WIB.Sebelum hilang kontak, sekitar 30 menit mengudara, pesawat memasuki wilayah udara yang dikendalikan oleh Air Traffic Control (ATC) Jakarta.Pada pukul 06.12 WIB, pilot meminta izin kepada ATC untuk bergeser ke kiri sejauh tujuh mil demi menghindari awan Cumulonimbus yang tebal. Permintaan ini disetujui.Namun, permintaan kedua pilot untuk menaikkan ketinggian dari 32.000 kaki (flight level 320) ke 38.000 kaki (flight level 380) tidak bisa langsung dipenuhi.Petugas ATC saat itu menunda izin naik ketinggian karena kondisi jalur udara di atas QZ8501 sedang padat.Terdapat pesawat AirAsia lain (QZ502) yang melintas di ketinggian tersebut.Baca juga: Aturan Bawa Koper Listrik ke Dalam Kabin Pesawat Citilink, Garuda, Lion Air, dan Air AsiaPada pukul 06.17 WIB, sinyal pesawat hilang dari radar (loss of contact). Tidak ada panggilan marabahaya (distress call atau Mayday) yang terkirim dari kokpit.US Navy Photo Kapal perusak USS Sampson melakukan pengisian kargo dan amunisi di laut dengan kapal USNS Carl Brashear. USS Sampson berada di Laut Jawa untuk melakukan operasi pencarian terhadap pesawat Air Asia Air Asia QZ8501 yang jatuh di perairan sekitar Selat Karimata.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-02-01 21:09