Kisah Isna Walidah, Ibu Guru SLB yang Sukses Bangun Kemandirian Siswanya

2026-01-17 07:24:26
Kisah Isna Walidah, Ibu Guru SLB yang Sukses Bangun Kemandirian Siswanya
SUMBAWA,  - Di balik peringatan Hari Ibu, tersembunyi kisah seorang ibu muda yang luar biasa.Isna Walidah (32), seorang guru PNS di Sekolah Luar Biasa (SLBN) 1 Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), membuktikan bahwa menjadi ibu dan pendidik adalah dua peran yang bisa dijalankan dengan gemilang.Sebagai seorang ibu muda dengan satu anak berusia 4,5 tahun, Isna memiliki ikatan batin yang kuat dengan anak-anaknya.Namun, panggilan tugas sebagai guru SLB membuatnya harus rela tinggal terpisah dari keluarga besarnya."Kalau di Sumbawa, saya sudah beli rumah karena cukup jauh perjalanan dua jam dari Empang ke Sumbawa. Awalnya bolak balik juga. Tapi cukup capek jika bolak balik terus, sementara mengajar di sekolah sampai sore," ujar Isna saat dikonfirmasi Senin .Meski berat, Isna meyakini bahwa pengorbanannya ini adalah bagian dari perjuangan untuk memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak berkebutuhan khusus.Baca juga: Kisah Atika Suneth, Ibu Tunggal Pedagang Ubi yang Sukses Antarkan 3 Anaknya Raih Gelar SarjanaIsna menceritakan, dia biasanya pulang ke kampung di Desa Ongko, Kecamatan Empang, saat hari libur atau akhir pekan.Sebisa mungkin, dia juga membawa anak-anak jika tidak banyak kerjaan di sekolah. Namun, jika sedang banyak deadline, dia akan meminta orangtua atau keluarganya untuk menjaga sang anak.Membimbing siswa-siswa dengan disabilitas rungu sejak tahun 2021, Isna menjadi saksi hidup bagaimana para siswanya ditolak saat hendak magang.Diskriminasi tersebut lantas membuatnya semakin bertekad untuk membuktikan bahwa siswa-siswanya memiliki potensi yang luar biasa.Dengan latar belakang pendidikan miliknya, Isna mulai mengembangkan inovasi pembelajaran digital.Dia membekali siswa SMA-LB dengan keterampilan desain produk digital yang banyak dibutuhkan industri kerja saat ini."Saya mengajar keterampilan digital bagi siswa disabilitas rungu, padahal latar belakang pendidikan saya adalah pendidikan luar biasa. Awalnya, saya tidak punya basic IT sama sekali," ujar Isna.Baca juga: Sosok Juliati Harimu, Ibu Pengolah Sagu Jadi Obat demi Kesembuhan AnaknyaKeterbatasan fasilitas tidak menghalangi semangat Isna. Dia memanfaatkan aplikasi Microsoft Word yang sederhana untuk mengajarkan konsep desain dasar.Hasilnya, siswa-siswa difabel rungu itu ternyata sangat cepat menangkap materi secara visual dan tekun dalam mengerjakan tugas.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Irwan mengaku bersyukur atas penghargaan yang telah diraih. Ia menekankan bahwa fokus utama perusahaan dimulai dari internal, yaitu kebahagiaan dan kesehatan karyawan, sebelum meluas ke masyarakat.“Ketika saya ditanya dewan juri, saya sampaikan bahwa fokus utama kami adalah membahagiakan dan menjaga kesehatan karyawan terlebih dahulu. Kalau karyawan yang dekat dengan kami saja tidak sehat dan bahagia, bagaimana kami bisa mengurus masyarakat yang lebih luas.” ujar Irwan kepada Kompas.com, Rabu.Irwan menambahkan, penghargaan yang diraih pihaknya  merupakan kerja kolektif seluruh karyawan dan tim.“Persyaratannya sangat banyak, ada 17 goals dan 169 target. Mustahil dicapai tanpa komitmen bersama,” kata Irwan.Pihaknya pun senantiasa mendorong seluruh elemen perusahaan berpartisipasi dalam berbagai upaya pencapaian SDGs, terutama terkait kesejahteraan sosial dan pengentasan kemiskinan.Baca juga: Anggota Komisi IX DPR Kagumi Standar Produksi Sido MunculSido Muncul juga menegaskan komitmennya untuk membantu program nasional, melalui program penanganan stunting dan tidak mengambil bagian dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).“Kami memilih memberikan bantuan berupa dana agar ibu-ibu bisa membeli kebutuhan gizi yang sesuai. Tahun depan kontribusi kami akan ditingkatkan,” katanya./Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat memegang piala penghargaan Terbaik I kategori Badan Usaha Besar Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 berkat keberhasilan program Smartani. Program Smartani yang mengantarkan Sido Muncul meraih juara pertama merupakan inisiatif pemberdayaan masyarakat yang mencakup sektor hulu hingga hilir. Program ini telah diinisiasi sejak 2021 dan menyasar kelompok tani di wilayah Semarang.Saat ini, sedikitnya 3.000 petani dan peternak telah mendapat pendampingan dari Sido Muncul.“Di tingkat hilir, kami membina karyawan untuk menjadi distributor. Sekarang ada sekitar 60 hingga 70 distributor yang dulunya karyawan kami dan kini sudah mandiri,” ungkap Irwan.Baca juga: Hadirkan Terang, Sido Muncul Gelar Operasi Katarak GratisManajer Lingkungan Sido Muncul, Amri Cahyono, menegaskan bahwa komitmen perusahaan terhadap SDGs diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat.Ia menyampaikan bahwa perusahaan secara konsisten memperkuat kontribusi terhadap 17 tujuan SDGs.“Program Smartani kami gagas untuk mewujudkan visi perusahaan, yaitu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Hingga saat ini, Sido Muncul telah memenuhi seluruh 17 tujuan SDGs,” ujarnya.Amri menjelaskan bahwa Smartani di Desa Bergas Kidul, Kecamatan Bergas, Semarang, dikembangkan dengan pendekatan nature-based solution. Implementasinya dimulai dengan social mapping untuk memetakan potensi lokal.“Di desa ini ada kelompok petani alpukat, peternak sapi perah, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ‘Mbok Jajan’ yang sebelumnya terdampak Covid-19. Kami memberikan pelatihan agar mereka dapat kembali produktif, dan kini produk mereka sudah memasok ke Sido Muncul,” terang Amri.Baca juga: Konsisten Bantu Tangani Katarak, Sido Muncul Kembali Raih Perdami Award/Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat bersama tim dalam ajang Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 di Jakarta, Rabu .

| 2026-01-17 05:47