JAKARTA, – Pasar saham global dan domestik mulai menunjukkan sinyal perubahan arah setelah sempat diliputi pesimisme sepanjang tahun. Chief Investment Officer – Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Samuel Kesuma, menilai bulan Oktober menjadi titik balik penting yang menandai peralihan sentimen di pasar modal.“Pasar saham domestik dan global melanjutkan penguatan pada Oktober. Optimisme didukung oleh turunnya inflasi Amerika Serikat dan meredanya tensi dagang AS–China,” kata Samuel dalam laporan Seeking Alpha Edisi November 2025, di Jakarta.Menurut Samuel, data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan menjadi pemicu utama penguatan pasar. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa The Federal Reserve (The Fed) masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga, di tengah pelemahan sektor tenaga kerja.Selain itu, kesepakatan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping untuk menahan eskalasi tarif selama setahun turut meredakan kekhawatiran pasar global.“Meski tidak menyelesaikan persoalan inti, kesepakatan ini setidaknya mengurangi risiko tensi yang bisa mengguncang sentimen dalam waktu dekat,” ujar Samuel.Baca juga: Bubble Pasar Saham (Bagian II-Habis)Dari dalam negeri, pasar saham juga mendapat angin segar lewat stimulus tambahan senilai Rp 30 triliun yang digelontorkan pemerintah dalam bentuk bantuan langsung tunai (BLT).Menurut Samuel, stimulus tunai seperti ini memiliki dampak lebih cepat terhadap konsumsi masyarakat dibandingkan program sebelumnya, sehingga bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025.Ia menambahkan, pemerintah dan Bank Indonesia kini berada pada jalur kebijakan yang lebih selaras, sama-sama berfokus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. “Stimulus ekonomi total mencapai Rp 46 triliun untuk periode September–Desember, termasuk BLT yang langsung menjadi katalis bagi konsumsi,” ujarnya.Selain itu, belanja pemerintah masih berpotensi meningkat tajam di akhir tahun. Per September 2025, realisasi belanja baru mencapai Rp 2.234 triliun atau 63 persen dari target. Dengan asumsi belanja mencapai 100 persen, masih ada ruang belanja lebih dari Rp 1.200 triliun di kuartal IV.Baca juga: Menakar Pengaruh Hasil Kocok Ulang dan Aturan Free Float MSCI pada Pasar Modal RIMAMI juga menilai Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut setelah mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur Oktober.“Inflasi inti domestik masih rendah, sekitar 2,4 persen secara tahunan. Jika komponen emas dikeluarkan, inflasi inti hanya 1,9 persen. Dalam siklus sebelumnya, selisih BI Rate dan inflasi inti bisa turun hingga 160 basis poin, sementara kini masih di kisaran 235 basis poin,” jelas Samuel.Dengan kata lain, ruang pelonggaran moneter masih terbuka, terlebih di tengah ekspektasi ekonomi yang akan lebih menantang dalam beberapa kuartal ke depan.Baca juga: OJK dan Perkumpulan Analis Perkuat Stabilitas Pasar Modal RI
(prf/ega)
Pasar Saham Mulai Beri Sinyal Balik Arah, Apa Pemicunya?
2026-01-12 04:38:56
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 03:32
| 2026-01-12 03:08
| 2026-01-12 02:50
| 2026-01-12 02:49
| 2026-01-12 02:44










































