SEMARANG, – Sore gerimis mulai menguyur kawasan Semarang saat Komunitas Bersemai Sekebun mengadakan program Tamasya Taman Bunga “Mencari Mia Bustam” pada Senin .Tur ini berfokus menjelajahi situs-situs yang berkaitan dengan kehidupan, pemikiran, dan kiprah seniman sekaligus penyintas kejahatan kemanusiaan 1965, Mia Bustam.Mia Bustam, lahir pada 4 Juni 1920 di Purwodadi dan meninggal pada 2 Januari 2011, dikenal sebagai seniman perempuan Indonesia dan aktivis, sekaligus istri pelukis dan politisi S. Sudjojono.Ia menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School dan Van Deventer School Surakarta, serta aktif di organisasi seni seperti Seniman Indonesia Muda dan Lekra di Yogyakarta.Ia menjadi tahanan politik yang dipenjara selama 13 tahun tanpa pengadilan sejak 1965 karena keterlibatannya dalam Lekra.Baca juga: Lekra: Latar Belakang, Tokoh, dan PerkembangannyaKegiatan tamasya ini dirancang bukan hanya sebagai tur sejarah, tetapi juga ruang belajar bersama yang menghadirkan hubungan dialogis antara generasi muda dan mereka yang bersinggungan langsung dengan narasi masa lalu dan pelanggaran HAM yang belum diselesaikan.Peserta didorong untuk bertanya, merefleksikan pengalaman, dan memahami bahwa memori merupakan proses yang terus bergerak.Sri Nasti Rukmawati (78), anak kedua Mia Bustam, mengingat kembali masa-masa keluarganya di Semarang.“Ini adalah salah satu tur napak tilas yang menarik. Karena meski saya pernah tinggal cukup lama di Semarang. Baru kali ini saya mengunjungi Kampung Bustaman dan Baterman sebagai tempat di mana leluhur dan kerabatnya pernah tinggal,” kenang Nasti.Baca juga: CEK FAKTA: Benarkah Soeharto Tidak Terlibat Genosida 1965-1966?Ia menuturkan bahwa setelah pembebasan pada 1978, Mia Bustam sempat tinggal lima tahun di rumah di Jalan Noroyono sebelum akhirnya membeli rumah sendiri di Jrakah.“Di rumah di Jrakah itulah seorang Mia Bustam kembali menulis dan membuat pesanan karya terutama sulaman dan jahit menjahit,” tambahnya.Mia menulis sejumlah memoar yang merekam perjalanan hidupnya, baik sebagai istri Sudjojono maupun sebagai penyintas penahanan politik.Dalam kegiatan ini, peserta diajak menapaki sejumlah lokasi penting yang menjadi bagian dari perjalanan hidup Mia Bustam—mulai dari jejak leluhur di Kampung Bustaman hingga fase pemulihan dirinya di Jrakah.Setiap perhentian menjadi ruang untuk membaca ulang fragmen sejarah melalui kisah-kisah dalam keempat memoarnya: Sudjojono dan Aku (2022), Dari Kamp ke Kamp (2022), Kelindan Asa dan Kenyataan (2022), dan Mutiara Kisah Masa Lalu (2024).Baca juga: Komnas HAM: Gelar Pahlawan untuk Soeharto Cederai Fakta Sejarah Orde BaruDalam hujan yang kian deras, peserta yang berada di kereta odong-odong juga diajak mendiskusikan ruang perempuan dalam seni, keberanian menyampaikan pengalaman pribadi di tengah kontrol negara, serta bagaimana ingatan dapat menjadi ruang perawatan dan perlawanan.
(prf/ega)
Tamasya “Mencari Mia Bustam” di Semarang, Mengenang Jejak Seniman dan Penyintas 1965
2026-01-12 07:23:56
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:41
| 2026-01-12 06:11
| 2026-01-12 05:50
| 2026-01-12 05:39
| 2026-01-12 05:02










































