Awal Musim Hujan, DBD di Kota Yogyakarta Capai 249 Kasus

2026-01-12 04:23:55
Awal Musim Hujan, DBD di Kota Yogyakarta Capai 249 Kasus
YOGYAKARTA, - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mencatat ratusan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pada awal musim penghujan.Sampai dengan pertengahan bulan November sudah ada 249 kasus.“Hingga pertengahan bulan November tercatat 249 kasus DBD,” ujar Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu, Selasa .Ia menambahkan bahwa catatan kasus ini menjadi perhatian khusus bagi Dinkes Kota Yogyakarta, mengingat puncak musim penghujan diprediksi pada Januari hingga Februari mendatang.Baca juga: Cerita Member Idol di Yogyakarta Tangkap Maling di IndekosnyaPada musim penghujan, identik dengan peningkatan populasi nyamuk Aedes Aegypti akibat kelembapan tinggi.Sebab itu, menurutnya perlu dilakukan upaya pencegahan secara masif dan serentak. Hal ini perlu agar angka kasus tidak semakin naik."Oleh karenanya, perlu dilakukan upaya pencegahan secara masif dan serentak agar kasus tidak melonjak drastis," kata dia.Baca juga: Kendalikan Inflasi di Kota Yogyakarta, Kios Segoro Amarto Dikembangkan hingga KelurahanEndang menyebut, pencegahan DBD hanya bisa dilakukan lewat Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) serta gerakan satu rumah juru pemantau jentik (jumantik) pada lingkungan tempat tinggal.Sementara untuk fogging, menurutnya, cenderung kurang efektif, karena hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak memberantas jentik.Endang menjelaskan, bahwa fogging merupakan langkah terakhir dalam menangani demam berdarah dengue. Selain itu, pihaknya juga mengatakan jika langkah ini tidak menjadi pilihan.Baca juga: Fenomena “Langit Bolong” di Atas Yogyakarta, Ini Penjelasan BMKG“Fogging menjadi senjata terakhir, dan sebenarnya tidak jadi pilihan,” jelas Endang.Diberitakan sebelumnya, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta juga tengah memperkuat sistem deteksi dini guna mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular.Beberapa penyakit menjadi fokus kewaspadaan karena berpotensi menyebar luas, terutama di wilayah dengan mobilitas tinggi seperti Yogyakarta. Salah satunya DBD."Beberapa di antaranya yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD), Leptospirosis, Difteri, Campak, Pertusis, Hepatitis, COVID-19, Pneumonia, dan ISPA," kata Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Lana Unwanah pada Jumat .Untuk mengatasi hal tersebut, Dinkes memperkuat Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta membangun jejaring kewaspadaan dengan berbagai fasilitas pelayanan kesehatan (faskes).Baca juga: Yogyakarta Waspadai DBD hingga COVID-19, Dinkes Perkuat Sistem Deteksi Dini SKDRTahap pertama implementasi SKDR melibatkan 18 puskesmas di seluruh wilayah Kota Yogyakarta. Tahap kedua akan menyusul dengan melibatkan 20 rumah sakit, yang secara rutin melaporkan data mingguan untuk keperluan pemantauan dan analisis epidemiologi.Seluruh fasilitas kesehatan diminta agar menyusun tren mingguan penyakit potensial KLB untuk mendukung pengambilan keputusan cepat jika terjadi lonjakan kasus.


(prf/ega)