PURWOREJO, - Wacana penerapan kembali sekolah enam hari di Jawa Tengah menuai beragam tanggapan dari masyarakat.Sejumlah orang tua siswa menilai perubahan dari lima hari menjadi enam hari sekolah tidak membawa perbedaan signifikan dalam aktivitas harian anak.Menurut para orang tua, selama ini sekolah tetap mengadakan kegiatan pada hari Sabtu, baik ekstrakurikuler maupun program pembinaan siswa.Karena itu, lima atau enam hari sekolah dinilai tidak jauh berbeda dalam praktiknya.Widarto, orang tua siswa salah satu SMA Negeri di Purworejo, mengatakan, anaknya tetap wajib datang ke sekolah setiap Sabtu untuk mengikuti kegiatan seperti pramuka, pembinaan karakter, rapat organisasi, dan ekstrakurikuler.“Mau dibilang lima hari atau enam hari, anak saya tetap masuk Sabtu. Kadang malah pulangnya lebih sore karena ada kegiatan OSIS atau ekstrakulikuler. Jadi menurut saya, kalau pemerintah bilang mau kembali ke enam hari, ya secara praktik sama saja,” ujarnya pada Kamis .Baca juga: Siswa Blora Keberatan soal Wacana Sekolah 6 Hari: Kami Butuh IstirahatIa menambahkan bahwa kegiatan sekolah pada hari Sabtu sudah berjalan bertahun-tahun sehingga penerapan resmi enam hari sekolah hanya mengubah istilah, bukan rutinitas.“Anak saya tiap Sabtu ada praktik industri tambahan dan penguatan kompetensi. Kalau resmi jadi enam hari pun tidak banyak bedanya. Anak-anak memang sudah terbiasa punya kegiatan,” kata Widarto.Meski demikian, beberapa orang tua menyoroti bahwa intensitas kegiatan baik pada sistem lima maupun enam hari sekolah sebenarnya sudah cukup tinggi.Anak pulang sore hampir setiap hari, ditambah tugas yang terus menumpuk.Siti (38), orang tua siswa SMP di Klaten, menilai wacana tersebut perlu dibarengi evaluasi beban belajar.“Kalau tiap hari pulang jam tiga atau empat. Kalau Sabtu resmi dijadikan hari belajar lagi, harus jelas kegiatan apa yang dibutuhkan,” ujarnya.Sejumlah orang tua juga menanggapi alasan pemerintah bahwa sekolah enam hari dapat mengurangi ketergantungan anak pada gawai karena waktu luang akhir pekan lebih sedikit. Namun anggapan itu dinilai kurang tepat.“Ketergantungan gawai itu bukan soal anak masuk sekolah berapa hari. Bahkan pulang sekolah pun mereka tetap pegang HP. Yang penting pengawasan dan pendampingan,” katanya.Para orang tua berharap pemerintah tidak terburu-buru mengambil keputusan dan mengkaji wacana tersebut dari berbagai aspek seperti kelelahan siswa, kesiapan guru, serta efektivitas belajar.
(prf/ega)
Wacana Sekolah Enam Hari di Jateng, Orang Tua: Secara Praktik Sama Saja
2026-01-12 04:19:25
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:30
| 2026-01-12 04:22
| 2026-01-12 03:37
| 2026-01-12 03:13
| 2026-01-12 03:09










































