Tembus 503 Jiwa, Korban Meninggal akibat Banjir di Aceh Terus Bertambah

2026-01-12 07:45:37
Tembus 503 Jiwa, Korban Meninggal akibat Banjir di Aceh Terus Bertambah
- Korban jiwa akibat banjir dan longsor di Provinsi Aceh terus bertambah, dengan jumlah terbanyak di Kabupaten Aceh Utara.Menurut data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis , korban meninggal akibat banjir dan longsor di Provinsi Aceh mencapai 503 jiwa.Jumlah korban meninggal dunia tersebut tersebut bertambah 5 jiwa, dari sebelumnya 497 pada Minggu .Informasi tersebut diumumkan Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Kamis pukul 17.00 WIB.Baca juga: Banjir Susulan di Pidie Jaya Aceh: Air Capai 2 Meter, Warga Sempat Panik, 19 Desa TerdampakBerikut rincian jumlah korban meninggal di Provinsi Aceh berdasarkan kabupaten terdampak (data BNPB Kamis):Aceh Utara menjadi wilayah dengan korban jiwa terbanyak. Sementara untuk wilayah Kabupaten Aceh Selatan dan Aceh Besar tidak ada data korban jiwa.Baca juga: Masjid Baitul Makmur Tetap Berdiri Usai Banjir Bandang Aceh Tamiang, 270 Rumah Warga Sekumur LenyapFoto: Dok. Relawan P2LH Kondisi pemukiman warga di Aceh Tamiang satu bulan pasca banjir bandang. Jalanan masih berlumpur dan digenangi air.Kemudian untuk data korban hilang di Aceh masih berjumlah 31 orang. Berikut rincian jumlah korban hilang berdasarkan kabupatennya:BNPB juga mencatat jumlah pengungsi di Provinsi Aceh terus berkurang menjadi 466.667 jiwa per pagi hari ini.Baca juga: Banjir Bandang Bireuen Aceh, Kisah Dua Lansia Kehilangan Rumah dan Harapan di Usia SenjaTotal, sampai dengan Kamis hari ini, jumlah korban jiwa di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat adalah 1.135 jiwa.Kemudian, korban yang masih belum ditemukan berkurang menjadi 173 orang dan warga yang mengungsi masih mencapai 489.864 jiwa.Demikian informasi update data korban akibat banjir dan longsor di Provinsi Aceh per Kamis sore.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Dalam pembukaan forum yang berlangsung di Hedley Bull Lecture Theater 3 tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq juga menekankan bahwa pembudayaan Bahasa Indonesia tak lagi hanya menjadi urusan domestik, tetapi sudah menjadi bagian dari strategi diplomasi yang relevan di tengah perubahan geopolitik kawasan.Ia menyebut bahwa posisi Indonesia dan Australia yang semakin strategis dalam dinamika Indo-Pasifik membuat penguatan bahasa menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.Menurutnya, kedua negara tidak hanya berbagi kedekatan geografis dan hubungan diplomatik yang panjang, tetapi juga berada pada simpul penting ekonomi masa depan.Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia dan Australia sama-sama memiliki peran besar dalam rantai pasok mineral strategis yang menjadi tulang punggung transisi energi dan industri berkelanjutan. Situasi ini menempatkan kerja sama kedua negara bukan semata hubungan bilateral, tetapi bagian dari arsitektur geoekonomi global.Di atas fondasi itulah, bahasa dan pendidikan dipandang sebagai jembatan yang memperkuat kemitraan jangka panjang. Penguasaan Bahasa Indonesia di Australia maupun peningkatan pemahaman budaya di kedua belah pihak diyakini mampu memperluas ruang kolaborasi, mulai dari dunia akademik, industri, hingga diplomasi publik.“Saya hadir mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bapak Abdul Mu’ti dalam acara Kongres Pertama Bahasa Indonesia ini untuk menegaskan komitmen pemerintah Indonesia dalam memperkuat peran Bahasa Indonesia di kawasan regional dan global melalui diplomasi pendidikan dan kebudayaan,” tegasnya.

| 2026-01-12 16:04