Kisah Mang Jai di Pangkalpinang, Gali Makam 40 Tahun Tanpa Digaji

2026-01-11 03:27:52
Kisah Mang Jai di Pangkalpinang, Gali Makam 40 Tahun Tanpa Digaji
PANGKALPINANG, - Jailani yang akrab disapa Mang Jai (65) mengayunkan cangkulnya di celah sempit pemakaman umum Bukit Lama, Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Senin .Hari ini, Mang Jai harus menyiapkan dua kuburan sekaligus untuk jenazah dua perempuan yang akan dimakamkan sebelum petang.Tak banyak tanah kosong yang tersisa.Mang Jai harus jeli melihat sedikit ruang kosong dan menggalinya untuk penghuni baru.Baca juga: Kisah Katwadi, Penjaga Makam 16 Tahun Hidup Bersama Kematian: Saya Lebih Takut Anak dan Istri Tak Makan"Sudah sering tumpang tindih. Kadang bertemu tengkorak, tidak tahu identitasnya kami pindahkan," kata Mang Jai di Pemakaman Bukit Lama, Senin.Pemakaman Bukit Lama lokasinya berdekatan dengan Pasar Pagi, menempati lahan sekitar tiga hektar.Pemakaman ini diyakini sudah ada sejak dua abad lalu, merujuk pada salah satu nisan yang bertuliskan tahun 1890.Mang Jai sendiri telah melakoni pekerjaannya sebagai petugas makam selama lebih dari 40 tahun.Ia bekerja untuk menjaga kebersihan makam sekaligus menggali kubur.Selama berkecimpung sebagai petugas makam, tak ada honor tetap yang diterima Mang Jai.Bahkan, saat pandemi Covid-19, Mang Jai tetap aktif menyiapkan lubang kuburan, meskipun tidak pernah menerima insentif.Baca juga: Cerita Hendrik Hidup dari Upah Bersihkan Makam sejak SD hingga Berkeluarga"Insentif Covid katanya jutaan, saya tidak pernah menerima, padahal yang dikuburkan sudah macam-macam terjangkit dan sebagainya," ungkap Mang Jai.Namun, bagi Mang Jai, pekerjaan menggali kubur atau merawat makam memang bukan soal mendapat upah tetap, melainkan bernilai ibadah dari sisi agama."Kami kalau gali kubur tidak pernah meminta dan tidak boleh meminta dibayar. Kalau ada yang memberi seikhlasnya diterima," ujar Mang Jai.Atas dedikasinya itu, rezeki Mang Jai memang tidak masuk melalui pintu makam.


(prf/ega)