JAKARTA, - Di tengah hiruk-pikuk sekolah, tidak semua anak terlihat. Ada yang merasa terasing, diam, dan menyimpan luka tak kasat mata.Di SMAN 72 Jakarta, rasa kesepian dan pengucilan itu berubah menjadi ledakan nyata. Seorang pelajar meledakkan lingkungan sekolah dengan alat peledak. Pelaku yang masih remaja itu merasa tak punya lagi ruang untuk menumpahkan emosinya.Kini dia berstatus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH).“Dia merasa tidak ada yang menjadi tempat untuk menyampaikan keluh kesahnya, baik itu di lingkungan keluarga, kemudian di lingkungannya itu sendiri, maupun di lingkungan sekolah,” kata Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin dalam konferensi pers yang digelar Selasa .Ladang untuk menumpahkan emosi tak hadir, akhirnya emosi tersebut menumpuk di pundak pelaku ABH tersebut.Baca juga: Pelaku Ledakan SMAN 72 Ikut Grup Pengagum Kekerasan InternasionalEmosi tersebut kemudian menjadi amarah, amarah berlanjut menjadi pelampiasan. ABH mencari rasa pelampiasan, kemudian terjerumus pada konten kekerasan di internet.Jiwa ABH semakin menghitam, tenggelam dalam konten kekerasan dan bergabung dalam komunitas penggemar kekerasan.Dalam komunitas itu, upaya kekerasan mendapatkan apresiasi oleh para anggotanya. Maka dari itu, ABH terpacu untuk mendapatkan perhatian dari kelompok yang sudah melekat pada dirinya.Peran keluarga yang nihil, ditambah lingkungan sekolah yang memberikan rasa sepi semakin membuat ABH merasa diakui hanya di satu tempat; komunitas konten kekerasan.Puncak emosi ABH akhirnya benar-benar menjadi aksi. Ia ingin komunitas tersebut semakin memberikan pengakuan dengan melakukan kekerasan di sekolahnya sendiri.Baca juga: Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta Merasa Kesepian dan Tak Punya Tempat CurhatPada Jumat , ABH membawa tujuh bom rakitan untuk diledakkan di SMAN 72 Jakarta Utara. Lima bom yang meledak ini menyebabkan 96 orang terluka.Emosi puncak korban perundungan di sekolah yang melampiaskan secara ekstrem juga pernah terjadi di Temanggung, Jawa Tengah, pada 2023 silam.ABH siswa SMP negeri di Temanggung ini disebut sering mendapat perundungan dari teman-temannya, sedangkan gurunya tak memberi atensi atas perundungan tersebut.Akhirnya ABH tersebut nekat meracik bahan bakar, datang dini hari dan sekolah tersebut hangus dilalap api.Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Margaret Aliyatul Maimunah mengatakan, kasus serupa semakin marak terjadi.
(prf/ega)
Gunung Es Perundungan di Sekolah, Jangan Sampai Korban Lepas Kendali
2026-01-12 11:11:00
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 11:30
| 2026-01-12 10:39
| 2026-01-12 10:31
| 2026-01-12 10:04
| 2026-01-12 09:45










































