Penurunan Tanah Ancam Kota-Kota Besar di Jawa, Jakarta dan Bandung Amblas Lebih dari 5 cm per Tahun

2026-01-15 03:05:01
Penurunan Tanah Ancam Kota-Kota Besar di Jawa, Jakarta dan Bandung Amblas Lebih dari 5 cm per Tahun
Jakarta - Badan Geologi mencatat sejumlah kota besar di Pulau Jawa mengalami penurunan muka tanah lebih dari lima sentimeter per tahun. Kondisi ini tidak hanya terjadi di wilayah pesisir, tetapi juga di dataran tinggi seperti Bandung.Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) Badan Geologi, Agus Cahyono Adi, mengatakan Kota Bandung dan kawasan Bandung Raya mengalami laju penurunan tanah signifikan akibat kombinasi faktor geologi dan aktivitas manusia."Pertama, faktornya adalah masifnya industri, tanah lunak dan sedimen muda, urbanisasi, beban bangunan, serta eksplorasi air tanah yang berlebihan," kata Agus di Bandung, Minggu .AdvertisementIa menjelaskan Bandung yang terbentuk dari bekas danau purba memiliki endapan sedimen yang labil sehingga lebih rentan mengalami amblasan."Penurunan muka tanah multifaktor. Wilayah Bandung ini kan terbentuk dari danau purba, jadi endapan sedimennya relatif lebih labil daripada daerah yang terbentuk dari bekuan lava yang lebih kuat," ujarnya.Menurut Agus, tidak semua faktor bisa dikendalikan, terutama yang terkait kondisi geologi. Namun pengurangan penggunaan air tanah dianggap langkah paling efektif untuk meminimalisasi penurunan."Faktor alam tidak bisa dikendalikan, yang bisa dikendalikan adalah mengurangi penggunaan air tanah," katanya.Selain Bandung, penurunan tanah lebih dari lima sentimeter per tahun juga terpantau di Jakarta Utara, Semarang (Genuk, Tanjung Mas, Kaligawe), Sayung di Demak, pesisir Pekalongan, serta Surabaya bagian timur dan utara. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Sekretariat Satgas PASTI, Hudiyanto, mengatakan sejak IASC beroperasi pada 22 November 2024 hingga 11 November 2025, lembaga itu telah menerima 343.402 laporan penipuan. Laporan tersebut menunjuk 563.558 rekening yang terkait aktivitas penipuan, di mana 106.222 rekening telah diblokir.Dari keseluruhan laporan, total kerugian yang dilaporkan korban mencapai Rp 7,8 triliun, sementara upaya pemblokiran dana berhasil menahan Rp 386,5 miliar.“Sejak awal beroperasi di tanggal 22 November 2024 sampai dengan 11 November 2025, IASC telah menerima 343.402 laporan penipuan. Total rekening terkait penipuan yang dilaporkan ke IASC sebanyak 563.558 rekening dengan 106.222 rekening telah dilakukan pemblokiran,” ujar Hudiyanto lewat keterangan pers, Sabtu .Baca juga: Penipuan AI Deepfake Kian Marak, Keamanan Identitas Digital Diuji“Adapun total kerugian dana yang dilaporkan oleh korban penipuan sebesar Rp 7,8 triliun dengan dana yang telah berhasil diblokir sebesar Rp 386,5 miliar,” paparnya. Menurut Hudiyanto, angka-angka itu memperlihatkan sejauh mana pelaku memanfaatkan platform digital untuk menjerat korban, mulai dari pinjaman online alias pinjol ilegal hingga tawaran investasi palsu, sehinggga penindakan masif diperlukan untuk melindungi konsumen.Sebagai bagian dari penindakan, Satgas PASTI kembali memblokir 776 aktivitas dan entitas keuangan ilegal, yang terdiri atas 611 entitas pinjaman online ilegal, 96 penawaran pinjaman pribadi (pinpri), dan 69 tawaran investasi ilegal.

| 2026-01-15 01:44