Pramono Bantah Rumah Sakit DKI Tolak Warga Baduy Korban Begal

2026-01-11 22:42:01
Pramono Bantah Rumah Sakit DKI Tolak Warga Baduy Korban Begal
JAKARTA, — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung membantah kabar bahwa rumah sakit di Jakarta menolak memberikan perawatan kepada Repan (16), warga Baduy yang menjadi korban pembegalan di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.Ia menegaskan tidak ada penolakan layanan medis terhadap korban, meski yang bersangkutan tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP).Menurut Pramono, kendala yang terjadi bukan terkait izin pelayanan, melainkan hambatan komunikasi antara pihak rumah sakit dan korban. Perbedaan bahasa membuat proses administrasi awal berjalan tidak lancar.Baca juga: Kisah Pilu Warga Baduy: Dibegal, Terluka, dan Sulit Dapat Perawatan karena Tak Ada KTP“Untuk warga Baduy, tidak benar ada penolakan dari rumah sakit. Saya secara khusus sudah memanggil Kepala Dinas. Mohon maaf, memang komunikasi yang terjadi karena warga Baduy ini, mungkin bahasanya tidak ini sehingga ada hambatan itu,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Kamis .Pramono menegaskan, seluruh fasilitas kesehatan di Jakarta tidak diperbolehkan menolak pasien dalam kondisi darurat, termasuk warga luar daerah dan mereka yang tidak memiliki identitas resmi."Yang jelas tidak ada sama sekali larangan untuk rumah sakit. Bahkan, Kepala Dinas Kesehatan, Bu Ani sendiri, akhirnya turun ke lapangan untuk mengecek itu. Jadi sama sekali itu enggak benar, ya,” ujarnya.Ia juga menekankan bahwa penanganan pasien menjadi tanggung jawab pemerintah daerah tanpa membedakan status kepemilikan rumah sakit.“Ya, mau maupun milik Pemprov atau enggak, saya sudah minta sama Bu Ani, sudah, semuanya tanggung jawab Pemda,” katanya.Baca juga: Sempat Melawan, Warga Baduy yang Dibegal Saat Jualan Madu Tangannya TerlukaSebelumnya, Repan menjadi korban pembegalan saat melintas di pinggiran Kali di kawasan Jalan Pramuka Raya. Ia dihampiri empat pelaku yang berboncengan menggunakan dua sepeda motor.Para pelaku merampas dua tas yang berisi satu unit ponsel, uang tunai Rp 3 juta, serta 10 botol madu dagangannya seharga Rp 150.000 per botol. Total kerugian korban mencapai sekitar Rp 4,5 juta.Saat mencoba mempertahankan barang-barangnya, Repan mengalami luka sayat di tangan kiri. Setelah kejadian, ia berjalan menuju rumah sakit terdekat untuk meminta pertolongan.Petugas rumah sakit sempat menanyakan kartu identitas dan keterangan administrasi, sementara Repan sebagai warga Baduy Dalam tidak memiliki KTP dan tidak membawa surat pengantar.“Karena kejadiannya pas azan Subuh. Memang ada lalu lintas yang lewat, tapi melaju dengan cepat-cepat,” ujar Repan saat ditemui di Tanjung Duren Dalam, Jakarta Barat, Rabu .


(prf/ega)