JAKARTA, - Ketika ingin memulai bisnis co-living atau biasa disebut kos-kosan, tentu keuntungan menjadi salah satu perhitungan.Pertanyaan ini mungkin seringkali terlintas di pikiran Anda ketika memulai instrumen investasi tersebut.Jangan khawatir, Country Director of Growth & VP of Online Marketing Cove Indonesia Dian Paskalis telah memberikan tips dan triknya kepada Kompas.com.Dia mencontohkan, perusahaan bisnis kos-kosan, Cove, berusaha memaksimalkan pendapatan pemilik.Biasanya, pendapatan harian tentu akan lebih banyak ketimbang dengan bulanan."Contohnya, secara bulanan harga satu kos itu Rp 5 juta. Kalau kita prorata biaya per hari sampai sebulan, itu bisa 30 persen-50 persen lebih tinggi. Karena itu, keuntungan akan lebih tinggi," jelas Dian.Baca juga: Agar Bisnis Kos-kosan Cuan, Pahami Dulu Empat Tips IniDari sisi perusahaan sendiri mempertimbangkan terlebih dahulu apakah memungkinkan untuk menyewakan secara harian atau tidak. Caranya, dengan melihat dari sisi izin yang bisa dikerjasamakan dengan si pemilik kos."Kalau dari bisnis kos ini, biasanya bergantung sama jumlah investasi untuk bangunannya. Kalau dibandingkan sama nilai bangunannya, itu tergantung penjualannya kembali, itu bisa 6 persen-8 persen per tahun dibandingkan dengan nilai investasi bangunan di luar tanah. Karena, nilai tanah akan selalu meningkat juga setiap tahun. Jika diakumulasi bisa 18 persen-23 persen per tahun," lanjut Dian.Menurut Dian, alasan ingin berbisnis kos-kosan harus dipahami terlebih dahulu oleh calon pemilik. Dian menambahkan, salah satu keunggulan bisnis kos-kosan adalah bisa bekerja sama dengan operator."Karena, banyak instrumen investasi kan, dari sisi saham, kos-kosan, ataupun fleksibel kayak hotel, ataupun misalkan yang lain, padel dan sebagainya. Nah, itu harus dipastikan dulu," tutur dia.Dian berpendapat, kos-kosan merupakan bisnis dengan kenaikan harga sewa setiap tahun. Sehingga, ini merupakan bisnis yang bertumbuh."Dan biasanya akan stabil karena rata-rata orang akan perlu tempat hunian, seperti saya bilang tadi, banyak dari masyarakat yang enggak mampu beli rumah," tutur Dian.Melihat pengalaman Cove, bisnis kos-kosan harus memiliki demand driver (pendorong permintaan) yang dilihat dari sisi lokasi, sebagai contoh dekat perkantoran dan kampus.Baca juga: Cove Tawarkan Kategorisasi Kos-kosan Berbasis Kualitas dan Fasilitas"Nah, kalau cuma satu, misalkan ini dekat kampus, susah sekali biasanya. Karena, biasanya kalau sudah ada kampus, kita akan tumbuh banyak properti. Dan biasanya enggak stabil begitu," tutur dia.
(prf/ega)
Seberapa Cuan Bisnis Kos-kosan?
2026-01-11 09:21:53
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 15:33
| 2026-01-11 14:49
| 2026-01-11 14:03
| 2026-01-11 13:33
| 2026-01-11 13:26










































