- Salah satu tahapan penting dalam Modul 3 Filosofi Pendidikan dan Pendidikan Nilai (FPPN) Topik 3: Kode Etik Guru pada Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) 2025 adalah penyusunan cerita reflektif. Setelah merumuskan rencana tindakan untuk mengimplementasikan etika profesi, peserta didorong untuk mengidentifikasi hambatan nyata dalam penegakan Kode Etik Guru di lingkungan sekolah. Pertanyaan reflektif tersebut berfokus pada analisis mendalam materi Apa yang Dapat Aku Lakukan sebagai Guru? di Ruang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK).Kunci jawaban dan panduan refleksi yang disajikan ini bertujuan menjadi referensi strategis bagi peserta PPG 2025 dalam menyusun respons yang mencerminkan pemikiran analitis dan proaktif sebagai pendidik profesional.Baca juga: Cerita Reflektif Modul 3 PPG 2025: Refleksi Materi dengan Kerangka 4FSetelah merumuskan rencana tindakan yang dapat dilakukan untuk menegakkan kode etik guru, lanjutkan diskusi dengan mengidentifikasi tantangan-tantangan yang mungkin dihadapi dalam upaya menegakkan kode etik guru di atas. Tuliskan paling tidak 5 tantangan dan rumuskan solusi dan langkah aktif yang yang dapat dilakukan untuk mengatasi tantangan tersebut.Guru sering kali memilih diam dan tidak melaporkan atau menegur pelanggaran etika yang dilakukan rekan sejawat (terutama senior atau teman dekat) demi menjaga hubungan baik.Membangun Budaya Integritas Kolegial. Guru dapat mengusulkan pembentukan Komite Etik Sejawat yang fungsinya sebagai mediator dan konsultan, bukan penghukum. Terapkan mekanisme peer-coaching etika yang bersifat rahasia dan suportif.Peraturan atau sanksi etika sering ditegakkan secara tidak konsisten (misalnya, guru senior mendapat perlakuan berbeda dari guru baru), yang merusak kepercayaan pada sistem.Transparansi SOP Penegakan. Sekolah harus memiliki SOP Etika yang tertulis dan teruji, di mana sanksi untuk pelanggaran yang sama harus seragam tanpa memandang jabatan atau senioritas. Setiap tindakan disiplin harus didokumentasikan dan disosialisasikan (secara umum, tanpa menyebut nama) sebagai bentuk pembelajaran.Kode Etik Guru tradisional sering kali tidak memadai untuk mengatasi tantangan di media sosial (misalnya, guru mengeluh tentang siswa di akun pribadi, atau menyebarkan informasi sensitif).Pengembangan Pakta Integritas Digital. Susun Panduan Etika Digital spesifik yang mendefinisikan batas-batas profesionalisme guru di dunia maya. Adakan workshop rutin mengenai Literasi Etika Digital untuk seluruh staf.Baca juga: Kunci Jawaban Cerita Reflektif PPG Modul 3 Topik 1: Hubungan Pancasila dan Budi Pekerti Ki Hajar DewantaraTingginya beban administrasi dan kelelahan emosional guru (burnout) menyebabkan penurunan empati, kesabaran, dan kualitas pelayanan (misalnya, guru cenderung tidak sabar pada siswa/orang tua).Prioritaskan Kesejahteraan Guru (Teacher Well-being). Pimpinan harus melakukan audit beban kerja untuk menghilangkan tugas administratif yang tidak esensial. Selain itu, sediakan sesi dukungan mental atau program mindfulness untuk menjaga energi emosional guru agar tetap stabil dan etis.Sekolah sering kali kesulitan menegakkan etika karena adanya tekanan atau intervensi dari pihak luar (orang tua yang terlalu protektif, komite, atau tokoh masyarakat).Sosialisasi Etika Terbuka dan Proaktif. Sekolah harus secara proaktif mensosialisasikan Kode Etik (termasuk prosedur pengaduan yang benar) kepada orang tua dan Komite Sekolah. Hal ini membuat stakeholder eksternal memahami batasan-batasan dan standar profesional yang harus dipatuhi guru, sehingga dukungan penegakan etika menjadi lebih kuat.Baca juga: Contoh Jawaban Cerita Reflektif Modul 2 Topik 3 Experiental Learning, Anda Bekerja sama dengan Guru Lain
(prf/ega)
Kunci Jawaban Modul 3 PPG 2025: 5 Tantangan Umum Guru dan Solusi Praktis, Cerita Reflektif
2026-01-12 04:03:54
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:18
| 2026-01-12 03:30
| 2026-01-12 02:16
| 2026-01-12 01:52










































