SETIAP kali bulan November tiba, kita menunduk pada upacara yang sama: bendera dikibarkan setengah tiang, lagu Gugur Bunga menggema, dan di layar kaca wajah-wajah para pahlawan kembali hadir dalam warna sepi dan hitam putih. Kita menyebut nama mereka dengan nada penuh hormat, tapi barangkali juga dengan jarak.Pahlawan, dalam ritual kenegaraan, sering menjadi monumen dari masa lalu—dibekukan dalam prasasti, dimuseumkan dalam sejarah. Kita menghafal mereka, tetapi jarang menghayati mereka. Padahal pahlawan bukan semata nama yang diukir pada batu nisan; ia adalah cermin yang menatap balik pada kita, menanyakan: apakah kita masih memiliki keberanian untuk berbuat benar ketika semua orang memilih diam?Ada pepatah lama yang sering diulang dalam wacana moral: lebih mudah membangun monumen bagi pahlawan daripada meneladani keberaniannya. Ungkapan tanpa pengarang pasti itu terasa relevan hari ini—kita bangsa yang pandai mengenang, tetapi sering gagal meneladani.Baca juga: Komnas HAM: Gelar Pahlawan untuk Soeharto Cederai Fakta Sejarah Orde BaruFilsafat klasik memandang keberanian sebagai kebajikan yang lahir dari kesadaran akan risiko. Aristoteles menyebutnya andreia—keberanian yang bukan sekadar nekat, melainkan pilihan sadar untuk bertindak ketika nilai-nilai yang lebih tinggi menuntutnya (Nicomachean Ethics, Buku III). Seorang pahlawan, karenanya, bukan orang yang tak takut mati, melainkan mereka yang menata rasa takutnya dalam kompas moral. Mereka tahu bahwa hidup tanpa martabat tak layak dipertahankan.Di titik itu, keberanian bukan lagi soal perang atau peluru, melainkan tentang kesetiaan kepada kebenaran yang tak selalu populer. Kini, musuh bukan lagi penjajah berseragam asing. Musuh baru datang dari dalam: ketakutan kolektif untuk berbeda, godaan kenyamanan, kompromi terhadap kebohongan. Pahlawan masa kini mungkin tidak menunggang kuda, tapi menulis, bersuara, dan mengingatkan bahwa nurani tak bisa disensor.Baca juga: Apakah Gelar Pahlawan Bisa Dicabut atau Dibatalkan? Ini Penjelasan AhliSøren Kierkegaard, dalam Fear and Trembling, berbicara tentang knight of faith—kesatria iman yang berjalan sendirian di tengah keramaian dunia. Ia tidak menanti tepuk tangan, bahkan sadar tindakannya bisa disalahpahami. Tapi ia tetap melangkah, sebab keyakinan selalu lebih dalam dari pengakuan publik. Mungkin di situlah pahlawan sejati dilahirkan: di tengah kesunyian.Ia tidak selalu memiliki gelar, seragam, atau tanda jasa. Ia mungkin seorang guru di pelosok, perawat yang tak dikenal, aktivis yang dibungkam, atau warga kecil yang menolak menyerah pada sistem yang menindasnya. Kita jarang menulis nama mereka, tetapi sejarah kecil mereka sesungguhnya menopang sejarah besar bangsa. Sebab, setiap kemerdekaan hanya berarti jika masih ada orang-orang kecil yang berani melawan ketidakadilan meski tak seorang pun melihat.Baca juga: Soeharto dan Marsinah dalam Ingatan BangsaDi antara yang paling sulit bagi manusia adalah memaafkan. Namun bangsa ini, entah karena bijak atau karena letih, sering memilih jalan itu. Dalam tradisi Jawa dikenal pepatah mikul dhuwur, mendhem jero—mengangkat tinggi jasa, mengubur dalam kesalahan. Barangkali inilah wajah lain kepahlawanan: kemampuan untuk tidak merawat dendam. Dalam tafsir budaya Nusantara, pahlawan tidak lahir dari amarah, tetapi dari keseimbangan batin. Ia menaklukkan bukan hanya musuh, tapi dirinya sendiri.Soeharto mungkin telah menjadi simbol perdebatan: antara yang ingin memaafkan dan yang menolak lupa. Namun, di balik silang pendapat itu, ada pelajaran besar: bahwa bangsa tanpa ingatan akan tersesat, tetapi bangsa tanpa keikhlasan akan terus memikul beban. Pahlawan sejati tahu kapan berjuang, dan kapan berdamai.Baca juga: Soeharto dan Ujian Ingatan BangsaFriedrich Nietzsche menulis dalam Ecce Homo: Amor fati—love of one’s fate. Bagi Nietzsche, manusia besar adalah mereka yang mampu berkata “ya” kepada kehidupan, bahkan pada penderitaan. Dalam semangat itu, pahlawan adalah seseorang yang menerima hidup dengan segala luka dan kehilangan, lalu tetap memilih untuk berbuat baik.Kita sering mencari pahlawan di luar diri kita: dalam sejarah, patung, atau buku pelajaran. Padahal pahlawan selalu dimulai dari keputusan kecil—menolak sogokan, menolong tanpa pamrih, menulis kebenaran yang pahit, atau sekadar berkata “tidak” ketika dunia menuntut “iya”.Cermin itu kini berbalik pada kita. Di hadapan gawai, di tengah godaan narsisme, kita lebih sering mengukir citra diri ketimbang makna. Kita ingin dipuji, bukan diuji. Padahal Albert Camus mengingatkan, “Yang heroik adalah tetap manusiawi ketika dunia telah kehilangan rasa kemanusiaannya.”Baca juga: Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Reaksi Protes Bermunculan Pahlawan hidup di antara dua waktu: masa lalu dan masa depan. Ia sering tidak dimengerti oleh sezamannya, bahkan ditolak oleh masyarakat yang kelak akan memujanya. Socrates dipaksa minum racun, Galileo dikutuk gereja, Tan Malaka dibunuh bangsanya sendiri. Namun waktu selalu berpihak pada kebenaran. Sejarah bekerja dengan cara yang sunyi: ia memulihkan nama-nama yang dahulu dicaci.Karena itu, kepahlawanan bukan tentang kemenangan, melainkan keteguhan untuk tetap setia pada yang benar meski kalah. Pahlawan tidak mencari keabadian dalam patung, tapi dalam gagasan. Di negeri ini, banyak yang gugur sebelum sempat disebut pahlawan. Tapi justru di situ letak keagungannya—karena mereka berjuang bukan demi disebut, melainkan demi hidup yang lebih adil bagi orang lain.Baca juga: Saat Soeharto dan Marsinah Dapat Gelar Pahlawan Nasional Bersamaan...Negara lahir dari darah dan cita-cita para pahlawan. Ironinya, negara juga sering menjadi mesin yang melupakan mereka. Gelar kepahlawanan kini kadang lahir dari meja birokrasi, bukan dari nurani sejarah. Kita memberi gelar “pahlawan nasional” melalui keputusan presiden, seolah kebaikan harus disahkan oleh kekuasaan. Padahal moral tidak membutuhkan dekret; ia hidup di hati rakyat yang mengenang dengan cara lebih tulus.
(prf/ega)
Apa dan Siapa Pahlawan
2026-01-11 03:37:43
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 04:10
| 2026-01-11 03:27
| 2026-01-11 03:18
| 2026-01-11 03:03
| 2026-01-11 01:40










































